Kamis, 28 Desember 2017

Cerpen #2 : Perempuan Kereta

Aku ingat betul pertama kali melihatmu. Sore itu, aku tergopoh – gopoh menuju kereta api, berlarian mengejar pintu kereta agar bisa mendapatkan tempat duduk. Seperti biasa, kereta lokal jurusan Jogja-Solo tidak pernah sepi penumpang. Kamu, dengan tampilan sederhana, rok jeans, kemeja coklat, dan jilbab instan seperti anak SD, dengan tenang tidak ikut berdesakan demi meraih kursi yang terbilang limited edition itu. Bahkan kamu mempersilahkan orang-orang untuk masuk terlebih dahulu. Aku membatin “Mungkin perempuan ini sedang sedih, depresi atau apalah itu yang jelas sedang tidak punya semangat, daya juang rendah sehingga tidak ada usaha untuk memenangkan kursi di dalam kereta itu”.
Ceritamu ternyata tidak berhenti saat itu juga. Hingga di dalam kereta pun, lakumu mencuri perhatianku lagi ketika ada orang lain yang menawarimu tempat duduk, kamu malah menolaknya dan memberikannya kepada perempuan lain. Aku membatin lagi, “Ahh, perempuan ini sok baik banget. Sok kuat mungkin.” Meski diri ini sebenarnya penasaran apa yang mendasarimu berlaku seperti itu, duhai perempuan kereta.
***
Sepertinya, alam sedang mendukungku di hari Sabtu pagi, seminggu setelah pertama kali aku melihatmu. Dengan latar yang sedikit berbeda. Masih di stasiun, hanya saja aku sedang tidak terburu-buru. Aku duduk di peron menunggu kereta local, kali ini jurusan sebaliknya, Solo-Jogja. Saat ku menoleh ke kanan, kujumpai pemandangan yang meneduhkan. Kamu, si perempuan kereta yang sedang membeli dagangan simbok2 di emperan stasiun. Aku mendengar samar2 dialogmu dengan simbok itu. Kamu membeli sedikit jajanan. Dan simbok tidak memiliki uang kembalian. Kamu, dengan ringan berucap, “Sudah mbok, uang kembalian buat mbok saja”. Simbok itu menjawab, “Mbak, tapi uangnya serratus ribu, jajannya cuma lima ribu”. Ya, kamu benar-benar tidak meminta uang kembalian itu.
***
Dan saat ini, masih dengan latar yang mirip. Stasiun Solo Balapan, sore hari. Aku melihat pemandangan yang lagi-lagi menyejukkanku. Melihat sosok yang sama dengan semburat wajah yang meski sedikit keriput tetapi tetap cantik bagiku. Perempuan Kereta yang sudah belasan tahun selalu bangun lebih pagi sebelum ku membuka mata. Iya kamu yang menyembunyikan kesedihan saat anak kita berpamitan hendak ke luar kota. Memeluk anak laki-laki kita dan berucap lirih, “Nak Lanang, kamu anak yang kuat. Tidak berjuang mendapat kursi di kereta bukan berarti kamu lemah. Memberikan tempat duduk buat ibu2, anak2, perempuan, dan orang tua itu perbuatan mulia. Tidak menawar dagangan di pasar atau emperan itu bukan berarti kamu bodoh. Niatkan buat sedekah ya, Le. Di manapun, kapanpun, semoga Allah mampukan anakku ini, menguatkan anakku ini untuk bisa berbuat baik meski kecil.”

Tuhan memang Maha Baik. Menyandingkanku dengan perempuan kuat. Aku ingin menangis melihat pemandangan ini, tapi tidak. Aku jaim di depan istriku. Yang aku tampilkan adalah aku Tersenyum. Senyum bahagia, senyum penuh kesyukuran. 

Minggu, 19 Juni 2016

Cerpen : Benalu Masa Lalu

Sialnya, seminggu lagi sudah lebaran.  Mau tidak mau Arumi harus pulang ke rumah nenek di Purwokerto.  Di kala banyak temannya berbahagia bisa pulang kampung, kali ini tidak untuk Arumi. Arumi sejak kecil sudah yatim piatu, tinggal di rumah nenek bersama kakak perempuan dan pamannya.
“Rum, emang kenapa sih kamu nggak seneng kalau mau pulang kampung ? Tanya aja sih, tapi kalau nggak mau cerita juga nggakpapa.”, tanya Ashima, sohib yang bertemu dari awal pendaftaran kuliah sampai sekarang, berjuang skripsi bareng.
“Bukan apa – apa, aku cuma nggak mau ketemu paman, im.”
“Hemm, ada apa dengan pamanmu, Rum?”, Ashima bertanya dengan sangat berhati – hati, pelan dan suara yang lirih.
Rasanya tiba – tiba sepi. Restoran tempat mereka bercakap – cakap berada di pinggir jalan yang ramai, tapi keheningan hadir dalam pembicaraan dua gadis itu. Arumi diam agak lama dengan tatapan menerawang. Hingga tak berapa lama, pundak Arumi berguncang dan menangislah dia. Dengan reflex, Ashima memeluk Arumi dan mengelus kepalanya, menyediakan pundak tempat menangis sejadi – jadinya. Serasa beban yang telah dipendam lama oleh Arumi dan baru bisa lepas saat ini, tumpah sejadinya di pelukan perempuan gempal yang selalu menemaninya.  Ashima tidak buru – buru bertanya ini itu, ia paham bahwa ada sesuatu yang berat membebani seorang dalam pelukannya. Hingga akhirnya Arumi bangkit dan mulai bercerita.
Cerita lampau yang tak pernah ia ceritakan kepada siapapun, kecuali saat ini, kepada Ashima yang dengan mudahnya lepas begitu saja meski lidahnya kelu. Kurang lebih delapan belas tahun lalu, tepatnya di rumah nenek, hanya ada dia dan pamannya. Ketika nenek ke pasar dan kakak perempuan ke sekolah menjadi waktu yang menyenangkan bagi sang paman tapi menyiksa bagi Arumi.
Saat itu Arumi menonton televisi di ruang tengah. Dengan suara yang keras sang paman memanggil Arumi dari kamarnya, “Arumi, cepat ke sini !” Arumi menurut saja apa yang diminta paman. Setelah masuk kamar, pintu langsung dikunci oleh paman. Arumi bingung dan bertanya kemudian dijawab paman tidak apa – apa. Saat Arumi ingin keluar kamar, tetapi tidak diperbolehkan paman. Arumi menangis keras hingga akhirnya paman mengancam “jika tidak berhenti menangis akan dipukul”. Sejak hari itulah, tubuh mungil Arumi sudah tidak lagi suci. Kejadian itu berlangsung hingga akhirnya Arumi pindah ke luar kota karena hendak diasuh oleh orangtua barunya yang akan mengadopsi. Selama kurang lebih setengah tahun Arumi mengalami kejadian itu. Dan tak ada satu orangpun yang mengetahui karena diancam oleh paman.
Arumi telah berhenti bercerita, tapi air mata masih menetes meski tidak tersedu – sedu. Ashima hanya bisa menatapnya tanpa berkomentar. Kemudian keduanya saling bertatap dan kembali berpelukan. Dalam pelukan, Ashima membatin, “hemm, inikah yang selama ini membuat Arumi nggak mau nikah? Yang nggak pernah tertarik mengengarkan ceritaku saat kasmaran dengan seorang teman lelaki di fakultas? Atau jangan – jangan… ahh…sudahlah… aku terlalu berprasangka dan menebak – nebak…”
Dalam hati pula Arumi berbicara, “Seandainya kau tahu, im.. aku memendam rasa padamu. Tapi aku tahu itu akan merusak hubungan kita dan menyakitimu. Aku hanya memendam dan tak tahu sampai kapan.”  

Jumat, 27 Mei 2016

Selalu Ada Celah

Tahukah kamu ?

Dulu saat aku mulai menginjak usia baligh, ada keinginan untuk bisa berjilbab. Tapi ada yang membuatku ragu, ibuku belum mengenakan jilbab. Lantas mengapa aku harus ragu dengan hal itu? Saat itu, aku merasa tidak enak hati, takut dibilang sok alim. Selain itu, ada hal lain yang mengganggu niatku untuk berjilbab. Aku takut kalau perilakuku tidak mencerminkan perempuan berjilbab yang solehah. 

Tapi akhirnya, aku mengenakan jilbab 

Tahukah kamu ?

Dulu saat aku sudah mengenakan jilbab dan baju yang tidak ketat, dengan bawahan rok. Tiba - tiba menginginkan bisa memakai pakaian yang up date, gaul, dan ingin mengenakan celana jeans seperti remaja kebanyakan. Aku membayangkan betapa bebasnya kalau mengenakan celana jeans saat itu. 

Hingga akhirnya, aku membeli celana jeans dan memakainya. Sempat merasa senang, serasa bebas bergerak tetapi akhirnya rasa berdosa datang dengan sendirinya. 

Akhirnya lagi, aku menyimpan celana jeans di lemari saja. Dan kembali mengenakan pakaian longgar, meski jilbabku tidak besar. Dan ketika sudah menikmatinya, ada keinginan untuk berjilbab syar'i yang menutup dada. Tetapi pada saat yang sama pula, timbul kegalauan. Takut nggak istiqomah, takut dibilang sok alim, dijauhin temen karena dipandang jaga jarak dengan orang2, dan banyak lagi. 

Akhirnya, aku memutuskan mengenakan jilbab syar'i yang menutup dada meski belum besar sangat. Setelah berhasil mengenakan jilbab itu, kadang - kadang bahkan sering hati ini terbersit rasa bangga pada diri sendiri yang secara tidak langsung meremehkan orang lain. Masya Allah... Bahkan terkadang menginginkan perhatian dari orang lain. Seolah - olah ingin mengumumkan bahwa 'aku sekarang udah syar'i lho'. Astaghfirullah... 

Tahukah kamu?

Dulu saat diberi uang saku yang pas - pasan, selalu berpikir lama untuk bersedekah, seolah- olah dengan memberikan sedekah akan menjadikanku miskin. 

Kemudian, setelah mampu dengan mudah mengeluarkan uang untuk bersedekah, tiba - tiba muncul rasa bahwa 'aku sudah menjadi manusia yang baik', aku sudah berjasa dan memberi manfaat buat orang lain, apakah ini perasaan sombong ? Astaghfirullah...

Selalu ada celah bagi Syaithan untuk membisikkan kepada manusia agar manusia tidak mendapatkan apa - apa dari yang diperbuatnya kecuali dosa. Bahkan di saat manusia berbuat kebaikan pun, syaithan tetap membisikkan agar manusia menjadi sombong, angkuh, riya', dan lainnya. 

Tapi manusia diberikan kesempatan untuk memilih di antara pilihan tersebut, manusia memang lemah, tetapi ada Allah tempat bergantung dan memohon kekuatan. Dia yang memberi kekuatan hingga akhirnya manusia bisa memilih pilihan yang benar. Dia yang memberikan izin kepada manusia hingga akhirnya kembali ke jalan yang lurus. Maka, berdoa dan berdoa, memohon kepada Allah agar selalu dikuatkan, diberikan petunjuk kemana harus melangkah. 

Semoga kita selalu dalam perlindungan Allah SWT. Aamiin.


Kamis, 31 Maret 2016

IT’S OK TO BE SAD

“Sedih ? It’s Oke.” Marah ?  Orapopo”.  “Senang ? Boleh banget”
Salah satu hal yang disampaikan dalam Film Animasi yang berjudul Inside Out. Waow ! Pasti dalam benak kalian bertanya, “kok boleh? Kan emosi negative. Merugikan diri sendiri maupun orang lain” Eittss… tunggu dulu, ternyata emosi yang kita miliki, semuanya ada maksud lho. Nah dalam Animasi Inside Out ini mengajarkan kita beberapa hal sederhana  mengenai Emosi.
1.       Emosi merupakan energy pendorong manusia
Manusia bisa bergerak karena ada energy yang mendorong, dan energy pendorong itu adalah emosi kita. Contoh ketika kita sedih, kita tidak akan memiliki energy untuk melakukan suatu hal sekalipun itu adalah hobi kita. Ketika kita senang, kita akan bersemangat melakukan banyak hal sampai lelah tidak terasa.

2.       Emosi adalah pesan dari diri kita
Nah, ini dia pesan utama dari film. Bahwa setiap emosi yang kita miliki membawa pesan masing – masing yang bermanfaat lho. It’s ok to be sad sometimes. Bahkan emosi sedih pun tidak perlu disingkirkan dan dijauhi, dengan emosi sedih, kita bisa menangis dan itu akan membuat kita lebih tenang, serta memberikan tanda atau sinyal kepada orang lain bahwa kita sedang membutuhkan pertolongan. Marah, marah itu perlu karena marah menyampaikan suatu pesan bahwa hal itu seharusnya tidak terjadi alias kita berhak mendapat keadilan. Namun, cara marah pun harus konstruktif, tepat dan di saat yang tepat agar tidak merusak lingkungan. ‘Takut’ membuat kita waspada dan melakukan persiapan cukup untuk kita dalam kondisi aman. ‘Jijik’ membantu kita untuk menjauhi hal yang dapat meracuni kita. Semua emosi membawa pesan masing – masing.


Kita perlu menyadari emosi yang sedang kita rasakan, kitalah yang punya control. Boleh mengekspresikan emosi, tapi ekspresikan secara konstruktif yaa…

3.       Dengan mengenal emosi, kita belajar Empati
Menyadari emosi yang sedang terjadi dalam diri sendiri itu merupakan salah satu ciri Cerdas secara Emosi lho.  Dengan menyadari emosi kita, kita bisa mengontrol emosi kita sendiri agar berekspresi sewajarnya. Dengan kita mengenal emosi kita, kita akan mampu menyadari tanda – tanda emosi yang dirasakan orang lain. Dengan begitu, kita akan memahami apa yang dibutuhkan orang lain. Asyik bukan ? Kita akan tepat sasaran dalam membantu teman, orang terdekat kita, dsb.
4.       Emosi adalah kacamata kita dalam memandang dunia
Salah satu bagian dalam film yang menarik adalah ketika Joy dan Sadness ngobrol mengenai memori terbaik bagi mereka masing - masing. Ketika mereka membicarakan satu memori, kejadian tersebut menjadi berbeda tergantung dari Joy atau sadness yang mengingatnya. 




Minggu, 08 November 2015

Tulisan Untuk Kamu yang Aku Tunggu

Sore ini, di kamar kosan, ditemani suara  hujan, aku niatkan untuk menulis

Hemm…  mungkin terbilang lebay, alay, atau sok romantis. Tapi inilah caraku untuk sedikit meluapkan perasaan.

Dear you, sebenernya aku masih belum bisa membayangkan siapakah “kamu” yang aku maksud ini. Hahaha. Tapi, tapi, tapi… akhir – akhir ini aku dijejali rasa khawatir. Khawatir ? Khawatir apa ya…

Jadi begini, mungkin sedikit iri dengan beberapa kawan sebaya yang mampu bercerita tentang kekasihnya, atau orang lain yang mendekati mereka, atau orang yang sedang mereka kagumi.
Kamu perlu tahu, bahwa saat ini tidak ada tanda – tanda ada seorang laki – laki yang mendekati aku. Menyedihkan. Tapi lebih menyedihkan lagi, bahkan aku belum mempunyai rasa kagum atau tertarik kepada seorang laki – laki manapun. Huft. Hahaha…
Sepertinya itulah yang membuatku khawatir. Dan aku berharap kamulah pereda rasa khawatir ini. #eeeaaakk. (Entah kapan kamu akan datang)

Baiklah, saat ini sebenernya secara tiba – tiba aku memiliki harapan terhadap dirimu. Dirimu yang nantinya akan menjalani hidup bersama denganku. #prikitiuwwh

Jadi, karena minggu lalu aku belajar mengenai emotional intelligence, aku jadi berharap bahwa kamu memiliki emotional intelligence yang tinggi. Karena kata dosenku, dalam berumah tangga, hanya cukup satu orang saja yang memiliki EI yang tinggi untuk bisa menyelamatkan rumah tangga. Karena sepertinya aku bukan yang memilikinya, jadi aku mengharapkan dirimu untuk memilikinya. Wkwkwk. #maksabanget

Lanjut, terus ya, dari dulu aku mengharapkan suami yang mirip dengan bapak. Kenapa bapak ? Aku kagum dengan beliau karena sifat – sifat beliau yang sederhana, bijaksana, dan pokoknya Bapak banget. Rasa – rasanya bapak multi talent, apa – apa bisa. Mulai dari benerin lampu, listrik, bahkan masak pun bapak bisa. Hehe.

Dan aku juga mendambakan bisa bertemu dengan dirimu yang mampu membuatku menampilkan aku apa adanya, tentunya, hahaha.

Dan yang terakhir, yang paling utama, kamu mampu menjadi imamku, membuatku semakin cinta kepada Allah. Sama – sama belajar dan beramal soleh. Hehe.

Dan kamu perlu tahu, saat aku menulis ini, aku menulis dengan senyum – senyum sambil menebak – nebak siapakah kamu ? wkwk.

Karena lagi hujan, semoga harapan yang menjadi doaku ini terkabul. Aamiin..

Tapi yang jelas, wahai calon suami,,, kamu tidak perlu khawatir, tidak perlu minder dengan harapanku tadi, mungkin kamu tidak merasa mempunyai hal – hal di atas… tapi sebenernya kamu punya itu kok. Bahkan lebih dari itu. Bagiku, kamu lebih keren dari harapan – harapanku tadi. Hahahaha..
See you… semoga kau tidak menyesal memilih aku sebagai ibu dari anak – anakmu nanti.

Jatinangor, 8 November 2015


Selasa, 13 Januari 2015

"Berani karena Takut"

Aku lupa hal apa yang sedang kami bahas saat itu. Namun, aku mencatat benar tentang "Berani karena Takut" yang disampaikan bapak diujung pembicaraan kami. Hanya pembicaraan yang ringan, tapi selalu ada pembelajaran. Aku tidak bisa mengarang banyak, jadi langsung saja dengan "apa itu yang dimaksud "Berani karena Takut"?

Banyak orang yang melakukan tindakan terbilang 'berani', mulai dari hal kecil sampai yang besar, bak superhero yang ada di televisi. Nah, aku dan bapak sepakat bahwa ada rasa 'takut' yang mendahuluinya. Kami belum menyatakan bahwa ini sebuah kepastian, karena kami pun tidak melakukan penelitian ilmiah. Hehe. Tapi mari kita coba lihat beberapa contoh atau tindakan berani di bawah ini. 

Seorang ayah berani memukul penjahat karena ... takut kehilangan anaknya.
Seorang ibu berani datang ke rumah tetangga untuk pinjam uang, dengan membuang rasa malunya, karena ... takut anaknya kelaparan, misalnya.
Siswa berani tampil ke depan, bisa jadi karena ... takut kalau nanti tidak tampil, akan dimarahi orangtua. 
Kalau kondisinya, dia tidak berani tampil ke depan, berarti dia ada keberanian untuk menolaknya. Dengan kata lain, Dia berani menolak, karena... takut tampil ke depan. 
Seorang ibu berani untuk melepaskan anaknya kuliah di luar kota karena ... takut kalau dia tetap di sini, dia tidak akan berkembang. 
Seorang laki - laki berani mencuri karena ... takut anaknya tidak bisa sekolah
Seorang pemuda berani menyatakan cinta bisa jadi karena ... takut kehilangan perempuan itu
Atau bisa juga, Berani untuk kehilangan dengan tidak menyatakan cinta karena ... takut dosa, sesuai dengan prinsip yang dipegangnya. 

So many things, banyak hal yang terbilang "berani" berawal dari rasa "takut". Bahkan seorang yang gagah berani pun, punya rasa takut yang tidak kalah besar dengan keberaniannya. Bisa jadi, besarnya keberanian itu muncul karena rasa takut yang besar juga.  

Sebenarnya, yang ingin penulis sampaikan ... bahwa setiap hal selalu ada nilai positifnya, kalau kita mau belajar mengambil, menambah nilai positif itu. Rasa takut pun bisa menjadi penyebab munculnya rasa atau tindakan yang terbilang 'berani', terlepas dari benar salah dari perbuatan itu. 




Jumat, 09 Januari 2015

Aku : Sudahkah mengenal aku ?

Sangat melibatkan emosi dalam menulis tulisan ini. Dalam sebuah kesendirian di dalam kamar kosan. Berpikir sebelum menulis, mungkin tidak bermanfaat untuk orang lain, setidaknya bermanfaat untuk diri sendiri, menghilangkan ketegangan dalam diri. 

Dulu pernah terjadi hal yang serupa, dan ini diingatkan kembali. 

Pujian yang datang membuat hati melayang, tapi tak disangka justru inilah yang terkadang menjadi sebab mengapa resah, mengapa hambar dalam ibadah.

Aku akui bahwa aku memikirkan "apa yang orang pikirkan tentang aku" dengan kata lain, "cap dari orang lain", aku tidak menafikkan kalau aku ingin dinilai "baik" oleh orang lain. Aku bisa melayang ketika dipuji orang lain, tapi ketika ada kritik atau masukan datang, mungkin kecil, tapi bisa dimasukkan hati, dipikirin banget - banget, sensitif lah.. 

Sungguh hal ini sangat tidak mengenakkan. Hidup kok susah, mikirin apa yang orang lain pikirkan tentang diri ini. Memang pas banget dengan bacaan terakhir yang aku baca, novel karangan Tere Liye dengan judul "Rindu". Disampaikan kalau, yang mengetahui apa yang terjadi dengan diri ini, ya kita sendiri, bukan orang lain. Kita tertawa, hanya kita yang tahu persis apakah kita bahagia atau tidak. Kita menangis, kitalah yang tahu persis apakah sedih atau tidak. Jadi, kalau orang lain menilai kita baik, kitalah yang tahu persis apakah kita memang baik atau tidak. 

Ditambah, aku dipertemukan dengan sebuah artikel di facebook, mengenai "mudah tersinggung", oh Allah, rasanya kok pas banget, Engkau kirim tulisan itu, saat aku menantikan jawabannya, di dalamnya, dikatakan bahwa orang yang mudah tersinggung berarti orang yang tidak memiliki standard diri. Alias, dia belum mengenal dirinya dengan baik. Misalnya, orang lain mengejek 'aku gendut', dan aku marah, padahal memang kenyataannya begitu, berarti aku belum mengenal diri, menerima fakta yang ada. Kalaupun apa yang dikatakan orang lain tidak sesuai dengan diri kita, orang yang cakap tidak akan peduli, karena sudah mengetahui, memahami, dan menerima diri ini. Sikap inilah yang disebut dengan Optimis, teringat penjelasan dari salah satu dosen, Mas Hary. Optimis berbeda dengan Sombong dan Rendah Diri. Jika Optimis adalah "Mampu memahami, mengenali, dan menerima diri apa adanya" (tetapi bukan keras kepala, yang tidak mau membuka diri terhadap masukan), Sombong berarti tidak mengakui kelemahannya, terlalu melebihkan kemampuannya. Rendah Diri adalah sebaliknya. 

Aku marah. Mengapa ada pikiran seperti ini? Inginnya, tidak peduli dengan penilaian orang lain. Inginnya bisa ikhlas hanya Allah tujuannya. Lelah.

Aku diingatkan melalui hal - hal kecil seperti ini, mungkin aku belum mengenal dalam siapa aku. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah belajar menerima kenyataan, masukan dari orang lain.

Mungkin aku juga belum ikhlas dalam berbuat kebaikan, entahlah, Allah yang mengetahui. Yang bisa aku lakukan hanya berusaha sebanyak mungkin berbuat kebaikan, mungkin di antara sekian kebaikan, hanya ada secuil yang ikhlas, bahkan sebutir pun tidak sampai, tapi Allah yang Tahu. 

Bukan perkara mudah untuk melakukan hal - hal itu, tidak cukup dalam kurun waktu 2 - 3 hari, mungkin seumur hidup, karena akan jatuh bangun aku dalam belajar. Bisa jadi, hari ini aku ingat dan semangat, besok lusa aku rapuh dan tak berdaya. 

Duhai Dzat yang Maha Sempurna, dekatkan kami dalam kebaikan, berikan kami kekuatan. 

Amiin.






Senin, 08 Desember 2014

Irreplaceable


Dibilang “temen”, kayaknya lebih dari temen
Disebut “sahabat”, sebenernya nggak yakin juga
Kalau “saudara”, nggak tau juga, mungkin gegara satu organisasi jadi manggilnya “sodh”
Dekat ? ehmm, nggak yakin kalau dekat, selain terpisah jarak fisik, hati pun aku masih meragu. Aku yang ragu. Jadi, apa ya? Apa yang membuatku merasa bahwa mereka “tak tergantikan”?

Apa ya? #mikirkeras
Lha wong padahal karakter beda jauh, minat apalagi, tapi kok yo betah gitu lho sampai sekarang. Kalau di perantauan, yang dikangeni itu ya “makhluk – makhluk” ini! Makhluk yang seimprit, secuil, seupil ini, ternyata oh ternyata… memang “cilik” wujudnya jika dilihat dari bulan. Makhluk ini langka. Harus bersyukur model apa ya aku ini, dikasih hadiah sama Allah SWT seberharga ini, “cilik, langka, berharga”.

Sebut saja dia bunga, gadis cantik yang umurnya selalu paling muda di antara kami, setiap tahun nggak akan lebih tua dari yg lainnya. Heehe. “Ngak, semenjak kuliah, udah jaraaang banget berbagi cerita, tidak sesering waktu masih duduk sebangku di SMA. Berharap bisa cerita lebih lama, dalam, tiap ketemu di liburan. Ngapunten kalau aku tidak peka dengan kondisimu, sayang.”

Calon ibu dokter, Eno.. perempuan tegar yang siap mengabdi untuk orang di sekitarnya. Dia nggak pikir panjang kalau mau nolong orang, suka sebel kalau dia nolong orang lain tapi tidak memikirkan diri sendiri. “No, aku tahu kepuasanmu, kebanggaanmu ketika bisa melihat orang lain seneng… perhatikan juga kesehatanmu ya, bu. Tetep semangat menebar manfaat yes ! “

Baiklah, lanjut ke wanita super cerdas, banyak bicara, dan banyak bekerja, nama beken tayak. Selalu merasa dirinya “elek” padahal aslinya sangat “intelek” . Selalu bilang “aku raiso” tapi ending nya bawa piala juga. Sangat menyebalkan. Orangnya nggak suka dipuji secara terang – terangan. Lagian juga nggak akan mempan. “yak, aku nggak akan memuji kok, tak enteni wae prestasi – pestasimu selanjutnya. Keep spirit, dear.”

Si kecil, anggrek. Tubuh boleh kecil, tapi nyali beuhh… jangan remehkan. Calon psikolog handal. Perempuan yang gigih, dan pantang menyerah. Suka merendah, padahal jagoannya.“Nggrek, pengen banyak belajar dari anggrek, tapi jarang banget ketemu. Nggrek, anggrek lebih lebih dari yang anggrek pikirkan lho.”

Sudah empat perempuan yang super aku ceritakan. Saatnya menuju enam laki – laki yang apa ya… *speechless

Dimulai dari yang paling senior, dulu sering dipanggil “mbah”, tapi si doi nggak mau. Yauda, panggil saja bang “apri”. Hehe. Ada yang bilang “Kalau mau tau kesabaran orang, lihatlah dari kesabarannya dalam memperlakukan bapak ibunya.” Salut sama si senior ini, sayangnya ke orang tua tidak diragukan lagi. Memang langka pemuda jaman sekarang ya seperti beliau. “Pri, mesti bapak ibumu bangga duwe anak sing iso diandalkan.”

Laki – laki yang mengaku mirip dengan Afgan. Tampaknya galak, ngeri, sangar tapi hatinya lembut, sensitive, peka. Kukuh namanya. “Setia”nya kepada kawan jangan ditanya. Ibarat hujan akan dia lewati, badai pun dia terjang. Beuuh.. Bicaranya “mak jleb” tapi terkenang. Selera humornya tinggi, jadi jangan nglucu di depannya kalau belum yakin itu lucu. Hehe. “Ojo minder lan pesimis, kuh. Tanpa disadari, sudah banyak perubahan positif pada dirimu.”

Tersebutlah dia Agus. Eh jangan. Panggil saja dia Gusta, lebih keren. Badannya gedhe, kayak bodyguard. Bukan cuma badan, otaknya berisi, hatinya pun lapang. Sabarnya nggak nguati. Nggak salah kalau nanti kita temukan dia jadi pemimpin yang bijak. Diamnya bukan berarti tidak perhatian kepada kawan dan sohibnya. Salah satu yang membuatku iri padanya adalah “feeling”nya bagus, lebih bagus daripada aku yang belajar psikologi. Hehe. “Gus, maturnuwun ya. Tetep dijaga ciri khas mu, lipat gandakan potensi, bakatmu. Aku ngerti uletmu tidak terkalahkan. Lebai. Hehe.”

Calon pengusaha sukses. Kami biasa memanggil dengan nama Yoga. Rupanya yang bersinar seperti namanya “raditya” (matahari), membuat bukan hanya perempuan tapi juga laki – laki ikut klepek – klepek. Ketenarannya jadi kapten basket, suksesnya di bisnis, tidak membuat dia semakin tinggi hati, justru rendah hati dan ngajeni yang dia tampilkan. “Yog, dijaga semangate. Siapkan diri untuk menjadi calon suami buat ‘nyonya’.” Hehe.

Lelaki yang punya semangat dan optimis. Suara fals tidak mengapa yang penting nyanyi. Kita panggil Thio Dhimas. *tepuk tangan. Badan boleh kecil, cengkring, tapi riwayat hidupnya jangan diremehkan, sudah banyak jabatan sebagai ketua ia lakoni. Pak Jokowi saja bisa, thio pasti bisa. Hehe. “Io, sejujurnya aku anyel nek kowe ngrokok. Ora tegel. Hehe. Io, sukses yo.“
  
Laki – laki berbadan besar, tapi dengan “baby face”. Rizal atau Zaluth. Kesibukannya luar biasa. Susah kalau ngajak buat kumpul. Sudah lama tidak memperhatikan perubahannya. Terakhir ketemu, masih sama. Ceria dan suaranya cetar membahana. “Zal, ojo kesel nggo mengabdi serta melayani lewat kegiatan2 sing mbok lakoni. Sempatkan pula untuk quality time with your family and us.” Hehe.  

Pas. Sudah sepuluh. *speechless. Aku bingung. Tidak mengurangi rasa bosan, aku akan terus mengucap terimakasih  for all of you. Banyak yang belum aku tahu mengenai kalian, banyak yang belum aku beri untuk kalian. Semoga masih ada kesempatan untuk terus mengenal kalian.

*Mohon maaf atas segala kesalahan yang penulis buat, yang mungkin menyakiti hati. Sangat terbuka lebar untuk kritik dan sarannya.   

Senin, 01 Desember 2014

Apresiasi ! Bukan sekedar Memuji

Sebuah kenikmatan besar, bisa dipertemukan dengan orang - orang hebat, mereka yang menginspirasi, dan dari beliau, aku mendapat banyak pelajaran. Melalui mas Hary dan Mbak Wita, dosen muda yang semangat dalam berbagi ilmu. Berbagi tentang Apa itu Apresiasi ?

Mungkin kebanyakan orang menganggap "mengapresiasi" sama dengan "memuji". Tapi setelah membaca tulisan ini, kita akan tahu bahwa "Apresiasi" lebih dari itu, bahkan "pujian" bukanlah arti dari apresiasi, tapi bisa jadi salah satu dari bentuk "apresiasi".

Oke, Kata Kunci yang harus diingat dari "Apresiasi" sebagai berikut :
  1. MENGAKUI 
  2. MENGHARGAI
  3. MEMBERI NILAI TAMBAH (+) 
MENGAKUI.  
  • Mengakui bahwa hal tersebut "ada". lawan dari kata "Mengakui" adalah "Mengabaikan". Jadi, jelaslah kalau mengabaikan, berarti tidak mengapresiasi. Namun "diam" belum tentu mengabaikan.
  • Mengakui tidak harus memuji. 
  • Sebagai contoh : Aku mendapat nilai 5. Bentuk apresiasinya ya "aku menerima bahwa nilaiku tidak mencapai target." BUKAN "nilaiku bukan 5 kok, ini salah tulis paling" (ini menafikkan). 
  • Tidak ada salahnya mendapat nilai tidak mencapai target, tinggal bagaimana kita bisa mengambil pelajaran untuk ke depannya.
  • Sekali lagi, Mengakui, menerima kenyataan bahwa hal tersebut ada dan nyata. 
MENGHARGAI
  • Menghargai keberadaan meski itu kecil, meski kecil sekali. Sebagai contoh, dia terlambat, tapi dia datang. Hargailah, sampaikan bahwa "terimakasih sudah datang, kamu datang 20 menit dari yang kita sepakati, aku menunggumu sudah lama, pengennya nanti kamu bisa datang tepat waktu, jika kamu kesusahan, apa yang bisa aku bantu? 
  • Kalimat di atas hanya contoh saja, tapi masing - masing dari kita mempunyai style yang berbeda dalam penyampaian.
  • Lawan dari "menghargai" adalah "menyepelekkan". 
  • Tidak selamanya apresiasi bentuknya positif (+)  
  • Misalny percakapan di bawah ini,
    • Sunny :  Pak, aku kok bodoh ya, nggak bisa menyelesaikan soal matematika ini
    • Bapak : Hemm, bapak rasa kamu ini udah kerja keras ya dari tadi, anak yang punya keinginan untuk tahu lebih banyak
  • Dari percakapan di atas, kita bisa melihat bahwa bapak bisa mengambil bagian yang berharga dari hal tersebut, mungkin tidak disadari dari anaknya, tapi dari kesadaran si anak yang merasa bodoh itulah justru kelebihannya, dia anak yang mempunyai keinginan untuk tahu lebih dari biasa.  
MEMBERI NILAI TAMBAH (+) 
  • Kata lainnya adalah Bersyukur 
  • Bukan menafikkan hal negatif 
  • Misalnya : Oke, aku harus mengulang mata kuliah tertentu, aku mengapresiasi bahwa aku memang harus mengulang agar menunjang nilaiku, dan aku berpikir bahwa "oke, aku akan lebih paham mengenai mata kuliah ini, karena aku kuliah lebih dari teman - teman yang lain" 
Mengakuinya, bukan memuji, tanpa harus menafikkan hal yang negatif, konten boleh saja negatif, tetapi cara Harus Konstruktif. 
Satu contoh lagi "Kamu gendut, tapi cantik dan nggak bosen kalo dilihat" dengan "kamu cantik, tapi kamu gendut" mana yang lebih enak dan senang untuk didengar?

You see?
Banyak tantangan untuk bisa Berkomunikasi Apresiatif, memberi apresiasi kepada diri sendiri maupun orang lain. Sangat MENANTANG memang ketika kita harus mengapresiasi orang/ hal yang :
  1.  Berbeda Pendapat. (Tidak menyetujui tapi tetap apresiasi)
  2. Posisinya di bawah kita (mungkin adik, junior, dll)
  3. Kegagalan
  4. Orang yang tidak Disukai (dibenci)
  5. Orang yang gagal dan dibenci. Beuh, susahnya.. tapi menantang. hehe
Untuk melatih ketrampilan ini, kita bisa mulai dengan mengapresiasi diri sendiri. Bagaimana bisa kita mengapresiasi orang lain kalau tidak mengapresiasi diri sendiri.?

LET'S TRY ! DO OUR BEST !


Jumat, 07 November 2014

Manusia tempat kecewa.

Niat hati ingin bisa membahagiakan 
Rasanya ingin seperti pahlawan 
Sempat aku memberi harapan
Karena kukira akan sempurna berjalan

Tapi ternyata aku mengecewakan
Apa yang aku katakan, apa yang aku janjikan
tidak terlaksana sesuai harapan
Aku mengecewakan

Rasa bersalah tidak kunjung reda
kepada orang - orang yang pernah aku buat kecewa

Apa yang aku inginkan..adalah..
Semoga mereka bahagia
terobatilah kekecewaan yang pernah ada
Lebih indah, lebih sempurna




Kamis, 06 November 2014

Wish You Were Here - Endah n Rhesa

I always be here, waiting for you.. coming back home
I keep our flowers grow since we planted the seed many years ago
And I stare at the moon hope we'll meet there 
Hope we'll meet there...
Cause I miss You
I wish You were here

I know its hard for you to stay
and so I let you go
But you promised to never let me down and said that you love me so
And I stare at the moon and hope we’ll meet there, hope we’ll meet there
‘cause I miss you.. 
I wish you were here

Make your dreams fulfilled, and don’t forget to take me with you someday

-11 Desember 2011-

Minggu, 12 Oktober 2014

Kuatkan pundaknya, Mampukan dia yang terpilih

Terinspirasi dari sahabat - sahabat di luar sana yang mengabdikan diri untuk menjadi pemimpin

Dia yang menjadi pemimpin
Kita tidak tahu persis alasan apa yang mendasarinya untuk berkenan menjadi pemimpin
Entah karena keinginan sendiri hingga akhirnya mengajukan diri atau karena diminta orang lain
Kita tidak tahu
Yang jelas, peran yang disandangnya bukanlah suatu hal yang biasa
Belum tentu peran ini akan baik jadinya jika diperankan orang lain, tidak ada yang bisa menjamin pula akan lebih keren jika orang lain yang menyandang

Tujuannya nggak muluk - muluk, sekedar untuk menyejahterakan anggotanya
Tapi yang didapatnya, tak lain tak bukan cacian dari anggotanya
Dia yang berusaha untuk memenuhi keinginan anggota, kebutuhan mereka
Tapi selalu saja ada yang kurang

Usahanya untuk bisa merangkul anggota agar utuh sampai akhir dalam berjuang, ternyata tidak mudah
Sekedar konfirmasi kehadiran saja, mungkin hal yang membahagiakan baginya
Usahanya untuk selalu menampilkan perilaku yang menyenangkan, ceria, di depan umum, perlu diacungi jempol
Karena kita tidak tahu seberat apa beban dan amanah yang ditanggungnya

Memang langka mempunyai orang seperti dia yang itu, dia yang di sana, dan dia yang di ujung situ, dan dia lainnya

Kuatkan pundaknya dalam menanggung amanah yang diberikan
Mampukan dia di kala lelah menghadang, di saat - saat tersulitnya

"Amanah tidak salah dalam memilih pundaknya" 

Selasa, 30 September 2014

Memberi sebelum Meminta

Aku meminta mereka agar datang tepat waktu
jika terlambat, aku kesal

tapi di sisi lain, aku pun pernah terlambat. baik sengaja menerlambatkan diri alias menunda datang dengan alasan "paling yg lain jg telat, jam indonesia emang ngaret, aku bukan orang yg terlalu penting di sana jadi tidak masalah kalau datang terlambat, dan banyak alasan lainnya",
maupun memang benar - benar ada hambatan sehingga tidak bisa tepat waktu, karena ada acara sebelumnya yang molor, atau macet di jalan, atau kecelakaan, dan banyak hal yang tidak terduga...

baiklah, tidak jadi kesal, introspeksi diri, ya. harus berusaha selalu berbenah dan melakukan yg terbaik

Apresiasi untuk kita semua yang bisa datang tepat waktu. sebuah perjuangan, yang kita tidak tahu, mungkin dia telah mengorbankan hal - hal penting hingga akhirnya dia datang tepat waktu.

Aku meminta mereka agar fokus memperhatikan aku ketika presentasi di depan kelas atau ketika aku mau sosialisasi sebuah acara kampus
Jika tidak, aku merasa tidak dihargai

tapi di sisi lain, aku pun pernah berada di posisi itu. Merasakan lelah, mengantuk, tidak fokus karena sedang memikirkan hal lain yang mendesak. Atau pernah juga merasa bosan karena presentasi kurang menarik atau materi yang diberikan tidak sesuai minat.  Rasanya ingin segera selesai, cepat pulang dan mengerjakan hal lain yang lebih penting bagiku.

Ya, aku sadar, apa yang aku sampaikan tidak selalu menjadi minat bagi yang lain, dan cara penyampaianku masih sangat jauh dari menarik. Di sini, aku belajar bagaimana agar ketika di depan sebisa mungkin menyampaikan dengan cara yang menarik agar teman juga menangkap apa yang aku sampaikan.
Aku juga sadar, betapa pentingnya menghargai, aku belajar bagaimana agar tetap stay, mendengarkan apa yang disampaikan orang lain, melawan rasa malas dan bosan. Karena di sinilah seni mendengarkan.

Apresiasi untuk kita semua yang bisa bertahan untuk selalu menghargai, yang mungkin kita tidak tahu dia telah berkorban untuk melawan segenap rasa yang tidak mengenakkan dalam dirinya.

Pada akhirnya memang kita harus belajar memandang peristiwa, hal, atau apapun tidak hanya dari satu sudut pandang :)



Bapak

Bapak. Penyemangat di saat penat. Pembangkit di saat sakit.

Entah kenapa, di saat suasana hati lagi - lagi tidak bersemangat, down, atau apalah sebutannya. Tanpa bapak bertanya pun, sepertinya beliau tahu kondisiku. Tanpa Bapak memaksaku untuk bercerita, dengan sendirinya aku bisa menceritakan apa yang aku alami. Bapak, tempat yang nyaman untuk bercerita, sharing, berdiskusi. Beliau banyak memberi wejangan - wejangan, nasihat, banyak pelajaran hidup yang aku ambil dari beliau. Sosok yang menginspirasi.

Baiklah, aku akan bercerita singkat mengenai perbincanganku dengan Bapak ketika di telepon. Pada saat itu, aku bercerita bahwa aku akhir - akhir ini dipertemukan dengan beberapa teman yang hebat. Bagiku sangat keren. Mereka berbeda dengan mahasiswa lainnya. Begitu menginspirasi. Pertama, ada temanku yang punya usaha sendiri dan sekarang bisa sukses, membiayai kuliah sendiri, dan dia punya cita - cita bisa hidup mandiri di usia 25 tahun. Padahal, jika dilihat dari latar belakangnya, dia berasal dari keluarga yang broken home. Dia tinggal bersama neneknya, tanpa memperoleh kasih sayang dari ibunya. Tapi, lihatlah sekarang, seorang perempuan mungil yang sekarang sukses menjalani bisnisnya, akademiknya pun tidak diragukan lagi. kurang keren apa coba. Yang kedua, ini cerita dari adik tingkat, dari kecil tinggal di panti asuhan karena memang dia anak yatim piatu, tidak pernah bertemu dengan orang tuanya. Tapi sekarang, dia bisa  kuliah dengan biaya sendiri, bahkan dia berencana bisa membantu adik -adik panti buat sekolah juga. Keren banget kan. Subhanallah pokoknya.

Setelah panjang lebar aku bercerita ke bapak, beliau menanggapi dan berkata, "mbak ika juga menginspirasi kok, tapi mbak ika aja yang nggak tahu". :) Oh, Bapaak... sedetik itupun rasanya trenyuh. Aku kira bapak bakal mengharuskan aku untuk lebih giat, tapi Bapak malah memuji. Bapak selalu menerima prestasiku yang apa adanya, Bapak tidak pernah marah dengan pencapaianku yang kurang memuaskan. Saat ini aku masih meminta segalanya dari Bapak, belum memberi sesuatu apapun ke bapak.

Doaku, Pak... semoga Allah menjadikanku anak perempuan yang solehah. Karena hanya dengan itu aku bisa mengantarkan bapak ibu ke syurga :')

Amiin




Kamis, 07 Agustus 2014

Mereka bilang...

Mereka bilang... Aku sabar
Tapi faktanya, aku sedang memaksa diri untuk memendam apa yang dirasakan. Menumpuknya, menahan, dan jika tak tertahan barulah meluap dalam bentuk tangisan yang lirih.

Mereka bilang... Aku pendiam
Ya ! Itu juga tidak salah. tapi mereka tidak tahu, bahwa dalam hati dan pikiran ini banyak berbicara. Hanya saja tidak sampai keluar untuk disuarakan

Mereka bilang... Aku cantik
Mungkin iya cantik wajah, sesekali. Tapi belum untuk cantik kepribadian. Belum cantik otaknya serta hatinya.

Mereka bilang... Aku Alim
Tapi bahkan, aku sendiri sering melanggar apa yang pernah aku sampaikan. Aku masih memaksa diri untuk beribadah. Aku sering kesal dan marah kepada diri sendiri, karena tidak bisa melakukan apa yang aku mengetahuinya.

Banyak sekali penilaian orang lain terhadap diri ini, aku tidak tahu itu sebuah pujian atau ejekan, yang jelas mereka mencoba mengenaliku. Penilaian mereka pun seolah  menjadi harapan mereka akan tingkahku. Bahkan bisa jadi, sifat dan sikap yang aku tampilkan berasal dari penilaian orang di sekitarku. Semoga apa yang mereka bilang, menjadi doa yang baik, memacu serta memotivasi diri ini untuk terus memperbaiki diri. 

Jumat, 13 Juni 2014

Adikku, sayangku...

ndak kerasa ya dik, dulu aku yang paling tinggi dan besar. sekarang aku...kalian lampaui tinggiku..
dulu aku sering ngejailin kalian, sekarang mana bisa aku ngejailin perempuan yang cantik2 seperti kalian... ndak tega, hehe... udah ada yg dijailin lagi...dek adam hehe
Semoga nanti sukses semua, rukun terus sampai akhir, Amin






Selasa, 10 Juni 2014

This Is Our Song (tulisan lama)

hehehe,,,
tiba tiba aku rindu lagu lagu ini. bukan hanya krn lagunya bagus, tp jg krn lagu ini kunyanyikan bersama kalian.
(hihihi)
Come on let's sing "nanananana heii yyaa"

1 2 3 ...jangan ambil pusing, hati rasanya ingin segera pulang. latihan blm usaiiii
trlambat datang push up yg salah jg push up, tiap hari dibentak2.
wahai seniorku btapa kejamnya dikau, wahai pelatihku betapa jeli matamu
Andai engkau tau apkh isi hatiku, AKU CINTA PADAMU !

Lari lari...tiap hari ! Badan sehat, kuat kaki.
Badan saya tak mengapa karna kita PI SMAGA !
eeee yaya eee ya ooo....2x

Kiri kanan kiri kanan kiri kanan kiri
aku punya pacar baru tp ku lupa namanya
kalo ku lupa namanya ku cari pacar yg lain
kiri kanan kiri kanan kiri kanan kiri

oto bemo, beroda tiga,
nananana ( aku lupa lanjutane ) hehe

hey, sodh... jangan pernah lupakan hari2 itu, jangan pernah sesali sekalipun kita pernah disakiti, karena kita orang yg beruntung dan yg terpilih, masa sperti itu tak kan pernah terulang,
1. kukuh : pak danton yg paling banyak kena tampar dari senior . hehe ( wjahmu jadi merah kuh )
2.anggrek : sang ibu yg rela push up sendiri pas ksemaptaan....( anggrek hebat )
3.eno : yang slalu memberi semangat untuk kita ( ' semangat cah " )
4.bunga : anak termuda yang paling panikan ( haduh, iki piye cah)
5.tio : bocah kurus yg cilok sama bunga pas CS2 ( hehehe, peace yo' )
6.tia : anak periang yg slalu m'buat kta tertawa tiap kehadirannya ( hehe)
7.mayang : senyumnya yg manis n dulu aku gag bisa bedain dg bunga ( hehehe )
8.maftuh : danki PGJ paling T.O.P ! hehehe
9. rizal : tingkahnya yg kocak kadang buat eno anyel ( hehe)
10. gusta : anak basket yg push up nya bagus
11. yoga : ini sama kayak gusta, dan mereka ber2 jg pernah kena semprot gara2 latian basket di saat kita lagi latian PI
12. apri : barisnya paling bagus pas barga hehe
13.anggreta : cantik, rambut panjangnya rela dipotong demi PI
14.Mega : gayanya yg modis dan murah senyum
15.Jaqueline : manis kayak mbaknya, hehe
16.Deo : nah ini, yg suaranya bagus ditambah jago gitar pula.
17.Alfin : suaranya yg manja trkadang membuat kta anyel, tp dy ikut mewarnai kisah ini
18.dhika : gayanya seperti anak laki, gagah mnrutku. hehe
19.Fahmi : boz kopsis yg gendut dan baik hati, gaya bhasanya yg begitu khas. hehe
20.Cahyo : yg teriak paling keras ktika memanggil nama ibunya saat renungan ksemaptaan (semangat cahyo !)
21.Prima : ini dia yg dapet pin dobel, lha ikut barga pgj og...( nada sdikit iri ) hehe
22.riska : pendek, kecil, hemh...panggilannya "tam tam" :D
23.Amanda : baik hati, lembut, skrang dah pindah...:( miss u sodh
24. One : tinggi, putih, dan lugu....hehe
25.Jalu : bocah sing semangat pas baris, tp kadang nganyeli neg pas galak. ( peace jal )
26. Defa : hitam manis, sdikit genit hehehe. ( semangat def, ojo sibuk terus )
27. Liza : mbak cantik, sdikit bicara dan lugu hingga ada yg kesengsem dngannya heehe
28.Prasekti : pendiem, smpai skarang pun masih.
29. jauhar : gendut, lucu, dan berhasil membuat tertawa saat latian PI
30.Ibnu : seng seneng futsal kii,,,(semangat boz)
31. Gilang : tinggi, kurus dan pendiam.hee
32.dipta : yg mnurutku pendiam krn hampir tdk pernah ak bicara padanya ( maaf ya dip )
33. Galuh : gadis pintar yg gag mau diremehkan ( semangat luh !)
34. Vannia : matanya yg sipit spt chinese, pinter gambar pula
35. Dhamar : pas gundul. gag bisa bedain dgn faris
36. Faris : pendiam dan murah senyum hoho
37. Rasna : wajah lugunya dan suara manjanya membuat kita tertawa ktika brkata "senior, sy mau ijin pipis" heehe
38.Randy : biasa dipanggil "koploh" , yg menyairkan suasana ktika sedng ad masalah. hohoho
39. Bayu : putih gendut kayak fahmi hehehe
40. Harwan : dulu sukanya marah, medeni lho, wan ( hehehe, peace )
41. rudi : nangis pas diklat, dan satu satunya yg punya perasaan saat anggrek push up sendirian. 
42. Winda : hitam manis dan banyak yg suka lhooo ...
43. alika : yg pake headset pas evaluasi

kita ada bukan untuk sombong, tapi kita ada untuk . . . ( lanjutkan sndiri ye )
cukup sekian, mohon maaf atas pendiskripsian yg kurang berkenan di hati saudara.
terimakasih sodh, terimakasih senior, terimakasih untuk semua pihak yg turut berperan dlm menyukeskan kisah klasik ini.
kita bertemu untuk berpisah ( setuju gag dgn kalimat ini?) hehe
.the end.