Aku ingat betul pertama kali
melihatmu. Sore itu, aku tergopoh – gopoh menuju kereta api, berlarian mengejar
pintu kereta agar bisa mendapatkan tempat duduk. Seperti biasa, kereta lokal
jurusan Jogja-Solo tidak pernah sepi penumpang. Kamu, dengan tampilan
sederhana, rok jeans, kemeja coklat, dan jilbab instan seperti anak SD, dengan
tenang tidak ikut berdesakan demi meraih kursi yang terbilang limited edition itu. Bahkan kamu
mempersilahkan orang-orang untuk masuk terlebih dahulu. Aku membatin “Mungkin
perempuan ini sedang sedih, depresi atau apalah itu yang jelas sedang tidak
punya semangat, daya juang rendah sehingga tidak ada usaha untuk memenangkan
kursi di dalam kereta itu”.
Ceritamu ternyata tidak berhenti saat
itu juga. Hingga di dalam kereta pun, lakumu mencuri perhatianku lagi ketika
ada orang lain yang menawarimu tempat duduk, kamu malah menolaknya dan memberikannya
kepada perempuan lain. Aku membatin lagi, “Ahh, perempuan ini sok baik banget.
Sok kuat mungkin.” Meski diri ini sebenarnya penasaran apa yang mendasarimu
berlaku seperti itu, duhai perempuan kereta.
***
Sepertinya, alam sedang mendukungku
di hari Sabtu pagi, seminggu setelah pertama kali aku melihatmu. Dengan latar
yang sedikit berbeda. Masih di stasiun, hanya saja aku sedang tidak
terburu-buru. Aku duduk di peron menunggu kereta local, kali ini jurusan
sebaliknya, Solo-Jogja. Saat ku menoleh ke kanan, kujumpai pemandangan yang
meneduhkan. Kamu, si perempuan kereta yang sedang membeli dagangan simbok2 di
emperan stasiun. Aku mendengar samar2 dialogmu dengan simbok itu. Kamu membeli
sedikit jajanan. Dan simbok tidak memiliki uang kembalian. Kamu, dengan ringan
berucap, “Sudah mbok, uang kembalian buat mbok saja”. Simbok itu menjawab,
“Mbak, tapi uangnya serratus ribu, jajannya cuma lima ribu”. Ya, kamu
benar-benar tidak meminta uang kembalian itu.
***
Dan saat ini, masih dengan latar yang
mirip. Stasiun Solo Balapan, sore hari. Aku melihat pemandangan yang lagi-lagi
menyejukkanku. Melihat sosok yang sama dengan semburat wajah yang meski sedikit
keriput tetapi tetap cantik bagiku. Perempuan Kereta yang sudah belasan tahun
selalu bangun lebih pagi sebelum ku membuka mata. Iya kamu yang menyembunyikan
kesedihan saat anak kita berpamitan hendak ke luar kota. Memeluk anak laki-laki
kita dan berucap lirih, “Nak Lanang, kamu anak yang kuat. Tidak berjuang
mendapat kursi di kereta bukan berarti kamu lemah. Memberikan tempat duduk buat
ibu2, anak2, perempuan, dan orang tua itu perbuatan mulia. Tidak menawar
dagangan di pasar atau emperan itu bukan berarti kamu bodoh. Niatkan buat
sedekah ya, Le. Di manapun, kapanpun, semoga Allah mampukan anakku ini,
menguatkan anakku ini untuk bisa berbuat baik meski kecil.”
Tuhan memang Maha Baik.
Menyandingkanku dengan perempuan kuat. Aku ingin menangis melihat pemandangan
ini, tapi tidak. Aku jaim di depan istriku. Yang aku tampilkan adalah aku
Tersenyum. Senyum bahagia, senyum penuh kesyukuran.




