Dibilang “temen”, kayaknya lebih dari temen
Disebut “sahabat”, sebenernya nggak
yakin juga
Kalau “saudara”, nggak tau juga, mungkin
gegara satu organisasi jadi manggilnya “sodh”
Dekat ? ehmm, nggak yakin kalau
dekat, selain terpisah jarak fisik, hati pun aku masih meragu. Aku yang ragu.
Jadi, apa ya? Apa yang membuatku merasa bahwa mereka “tak tergantikan”?
Apa ya? #mikirkeras
Lha wong padahal karakter beda jauh,
minat apalagi, tapi kok yo betah gitu lho sampai sekarang. Kalau di perantauan,
yang dikangeni itu ya “makhluk – makhluk” ini! Makhluk yang seimprit, secuil,
seupil ini, ternyata oh ternyata… memang “cilik” wujudnya jika dilihat dari
bulan. Makhluk ini langka. Harus bersyukur model apa ya aku ini, dikasih hadiah
sama Allah SWT seberharga ini, “cilik, langka, berharga”.
Sebut saja dia bunga, gadis cantik
yang umurnya selalu paling muda di antara kami, setiap tahun nggak akan lebih
tua dari yg lainnya. Heehe. “Ngak, semenjak kuliah, udah jaraaang banget
berbagi cerita, tidak sesering waktu masih duduk sebangku di SMA. Berharap bisa
cerita lebih lama, dalam, tiap ketemu di liburan. Ngapunten kalau aku tidak
peka dengan kondisimu, sayang.”
Calon ibu dokter, Eno.. perempuan
tegar yang siap mengabdi untuk orang di sekitarnya. Dia nggak pikir panjang
kalau mau nolong orang, suka sebel kalau dia nolong orang lain tapi tidak
memikirkan diri sendiri. “No, aku tahu kepuasanmu, kebanggaanmu ketika bisa
melihat orang lain seneng… perhatikan juga kesehatanmu ya, bu. Tetep semangat
menebar manfaat yes ! “
Baiklah, lanjut ke wanita super
cerdas, banyak bicara, dan banyak bekerja, nama beken tayak. Selalu merasa
dirinya “elek” padahal aslinya sangat “intelek” . Selalu bilang “aku raiso”
tapi ending nya bawa piala juga. Sangat menyebalkan. Orangnya nggak suka dipuji
secara terang – terangan. Lagian juga nggak akan mempan. “yak, aku nggak akan
memuji kok, tak enteni wae prestasi – pestasimu selanjutnya. Keep spirit,
dear.”
Si kecil, anggrek. Tubuh boleh kecil,
tapi nyali beuhh… jangan remehkan. Calon psikolog handal. Perempuan yang gigih,
dan pantang menyerah. Suka merendah, padahal jagoannya.“Nggrek, pengen banyak
belajar dari anggrek, tapi jarang banget ketemu. Nggrek, anggrek lebih lebih
dari yang anggrek pikirkan lho.”
Sudah empat perempuan yang super aku
ceritakan. Saatnya menuju enam laki – laki yang apa ya… *speechless
Dimulai dari yang paling senior, dulu
sering dipanggil “mbah”, tapi si doi nggak mau. Yauda, panggil saja bang
“apri”. Hehe. Ada yang bilang “Kalau mau tau kesabaran orang, lihatlah dari
kesabarannya dalam memperlakukan bapak ibunya.” Salut sama si senior ini,
sayangnya ke orang tua tidak diragukan lagi. Memang langka pemuda jaman
sekarang ya seperti beliau. “Pri, mesti bapak ibumu bangga duwe anak sing iso diandalkan.”
Laki – laki yang mengaku mirip dengan
Afgan. Tampaknya galak, ngeri, sangar tapi hatinya lembut, sensitive, peka. Kukuh namanya. “Setia”nya
kepada kawan jangan ditanya. Ibarat hujan akan dia lewati, badai pun dia
terjang. Beuuh.. Bicaranya “mak jleb” tapi terkenang. Selera humornya tinggi,
jadi jangan nglucu di depannya kalau belum yakin itu lucu. Hehe. “Ojo minder
lan pesimis, kuh. Tanpa disadari, sudah banyak perubahan positif pada dirimu.”
Tersebutlah dia Agus. Eh jangan.
Panggil saja dia Gusta, lebih keren. Badannya gedhe, kayak bodyguard. Bukan cuma
badan, otaknya berisi, hatinya pun lapang. Sabarnya nggak nguati. Nggak salah
kalau nanti kita temukan dia jadi pemimpin yang bijak. Diamnya bukan berarti
tidak perhatian kepada kawan dan sohibnya. Salah satu yang membuatku iri
padanya adalah “feeling”nya bagus, lebih bagus daripada aku yang belajar
psikologi. Hehe. “Gus, maturnuwun ya. Tetep dijaga ciri khas mu, lipat gandakan
potensi, bakatmu. Aku ngerti uletmu tidak terkalahkan. Lebai. Hehe.”
Calon pengusaha sukses. Kami biasa
memanggil dengan nama Yoga. Rupanya yang bersinar seperti namanya “raditya”
(matahari), membuat bukan hanya perempuan tapi juga laki – laki ikut klepek –
klepek. Ketenarannya jadi kapten basket, suksesnya di bisnis, tidak membuat dia
semakin tinggi hati, justru rendah hati dan ngajeni yang dia tampilkan. “Yog,
dijaga semangate. Siapkan diri untuk menjadi calon suami buat ‘nyonya’.” Hehe.
Lelaki yang punya semangat dan
optimis. Suara fals tidak mengapa yang penting nyanyi. Kita panggil Thio
Dhimas. *tepuk tangan. Badan boleh kecil, cengkring, tapi riwayat hidupnya
jangan diremehkan, sudah banyak jabatan sebagai ketua ia lakoni. Pak Jokowi
saja bisa, thio pasti bisa. Hehe. “Io, sejujurnya aku anyel nek kowe ngrokok.
Ora tegel. Hehe. Io, sukses yo.“
Laki – laki berbadan besar, tapi dengan
“baby face”. Rizal atau Zaluth. Kesibukannya luar biasa. Susah kalau ngajak
buat kumpul. Sudah lama tidak memperhatikan perubahannya. Terakhir ketemu,
masih sama. Ceria dan suaranya cetar membahana. “Zal, ojo kesel nggo mengabdi
serta melayani lewat kegiatan2 sing mbok lakoni. Sempatkan pula untuk quality
time with your family and us.” Hehe.
Pas. Sudah sepuluh. *speechless. Aku
bingung. Tidak mengurangi rasa bosan, aku akan terus mengucap terimakasih for all
of you. Banyak yang belum aku tahu mengenai kalian, banyak yang belum aku beri
untuk kalian. Semoga masih ada kesempatan untuk terus mengenal kalian.
*Mohon maaf atas segala kesalahan yang
penulis buat, yang mungkin menyakiti hati. Sangat terbuka lebar untuk kritik
dan sarannya.