Minggu, 19 Juni 2016

Cerpen : Benalu Masa Lalu

Sialnya, seminggu lagi sudah lebaran.  Mau tidak mau Arumi harus pulang ke rumah nenek di Purwokerto.  Di kala banyak temannya berbahagia bisa pulang kampung, kali ini tidak untuk Arumi. Arumi sejak kecil sudah yatim piatu, tinggal di rumah nenek bersama kakak perempuan dan pamannya.
“Rum, emang kenapa sih kamu nggak seneng kalau mau pulang kampung ? Tanya aja sih, tapi kalau nggak mau cerita juga nggakpapa.”, tanya Ashima, sohib yang bertemu dari awal pendaftaran kuliah sampai sekarang, berjuang skripsi bareng.
“Bukan apa – apa, aku cuma nggak mau ketemu paman, im.”
“Hemm, ada apa dengan pamanmu, Rum?”, Ashima bertanya dengan sangat berhati – hati, pelan dan suara yang lirih.
Rasanya tiba – tiba sepi. Restoran tempat mereka bercakap – cakap berada di pinggir jalan yang ramai, tapi keheningan hadir dalam pembicaraan dua gadis itu. Arumi diam agak lama dengan tatapan menerawang. Hingga tak berapa lama, pundak Arumi berguncang dan menangislah dia. Dengan reflex, Ashima memeluk Arumi dan mengelus kepalanya, menyediakan pundak tempat menangis sejadi – jadinya. Serasa beban yang telah dipendam lama oleh Arumi dan baru bisa lepas saat ini, tumpah sejadinya di pelukan perempuan gempal yang selalu menemaninya.  Ashima tidak buru – buru bertanya ini itu, ia paham bahwa ada sesuatu yang berat membebani seorang dalam pelukannya. Hingga akhirnya Arumi bangkit dan mulai bercerita.
Cerita lampau yang tak pernah ia ceritakan kepada siapapun, kecuali saat ini, kepada Ashima yang dengan mudahnya lepas begitu saja meski lidahnya kelu. Kurang lebih delapan belas tahun lalu, tepatnya di rumah nenek, hanya ada dia dan pamannya. Ketika nenek ke pasar dan kakak perempuan ke sekolah menjadi waktu yang menyenangkan bagi sang paman tapi menyiksa bagi Arumi.
Saat itu Arumi menonton televisi di ruang tengah. Dengan suara yang keras sang paman memanggil Arumi dari kamarnya, “Arumi, cepat ke sini !” Arumi menurut saja apa yang diminta paman. Setelah masuk kamar, pintu langsung dikunci oleh paman. Arumi bingung dan bertanya kemudian dijawab paman tidak apa – apa. Saat Arumi ingin keluar kamar, tetapi tidak diperbolehkan paman. Arumi menangis keras hingga akhirnya paman mengancam “jika tidak berhenti menangis akan dipukul”. Sejak hari itulah, tubuh mungil Arumi sudah tidak lagi suci. Kejadian itu berlangsung hingga akhirnya Arumi pindah ke luar kota karena hendak diasuh oleh orangtua barunya yang akan mengadopsi. Selama kurang lebih setengah tahun Arumi mengalami kejadian itu. Dan tak ada satu orangpun yang mengetahui karena diancam oleh paman.
Arumi telah berhenti bercerita, tapi air mata masih menetes meski tidak tersedu – sedu. Ashima hanya bisa menatapnya tanpa berkomentar. Kemudian keduanya saling bertatap dan kembali berpelukan. Dalam pelukan, Ashima membatin, “hemm, inikah yang selama ini membuat Arumi nggak mau nikah? Yang nggak pernah tertarik mengengarkan ceritaku saat kasmaran dengan seorang teman lelaki di fakultas? Atau jangan – jangan… ahh…sudahlah… aku terlalu berprasangka dan menebak – nebak…”
Dalam hati pula Arumi berbicara, “Seandainya kau tahu, im.. aku memendam rasa padamu. Tapi aku tahu itu akan merusak hubungan kita dan menyakitimu. Aku hanya memendam dan tak tahu sampai kapan.”