Senin, 01 Desember 2014

Apresiasi ! Bukan sekedar Memuji

Sebuah kenikmatan besar, bisa dipertemukan dengan orang - orang hebat, mereka yang menginspirasi, dan dari beliau, aku mendapat banyak pelajaran. Melalui mas Hary dan Mbak Wita, dosen muda yang semangat dalam berbagi ilmu. Berbagi tentang Apa itu Apresiasi ?

Mungkin kebanyakan orang menganggap "mengapresiasi" sama dengan "memuji". Tapi setelah membaca tulisan ini, kita akan tahu bahwa "Apresiasi" lebih dari itu, bahkan "pujian" bukanlah arti dari apresiasi, tapi bisa jadi salah satu dari bentuk "apresiasi".

Oke, Kata Kunci yang harus diingat dari "Apresiasi" sebagai berikut :
  1. MENGAKUI 
  2. MENGHARGAI
  3. MEMBERI NILAI TAMBAH (+) 
MENGAKUI.  
  • Mengakui bahwa hal tersebut "ada". lawan dari kata "Mengakui" adalah "Mengabaikan". Jadi, jelaslah kalau mengabaikan, berarti tidak mengapresiasi. Namun "diam" belum tentu mengabaikan.
  • Mengakui tidak harus memuji. 
  • Sebagai contoh : Aku mendapat nilai 5. Bentuk apresiasinya ya "aku menerima bahwa nilaiku tidak mencapai target." BUKAN "nilaiku bukan 5 kok, ini salah tulis paling" (ini menafikkan). 
  • Tidak ada salahnya mendapat nilai tidak mencapai target, tinggal bagaimana kita bisa mengambil pelajaran untuk ke depannya.
  • Sekali lagi, Mengakui, menerima kenyataan bahwa hal tersebut ada dan nyata. 
MENGHARGAI
  • Menghargai keberadaan meski itu kecil, meski kecil sekali. Sebagai contoh, dia terlambat, tapi dia datang. Hargailah, sampaikan bahwa "terimakasih sudah datang, kamu datang 20 menit dari yang kita sepakati, aku menunggumu sudah lama, pengennya nanti kamu bisa datang tepat waktu, jika kamu kesusahan, apa yang bisa aku bantu? 
  • Kalimat di atas hanya contoh saja, tapi masing - masing dari kita mempunyai style yang berbeda dalam penyampaian.
  • Lawan dari "menghargai" adalah "menyepelekkan". 
  • Tidak selamanya apresiasi bentuknya positif (+)  
  • Misalny percakapan di bawah ini,
    • Sunny :  Pak, aku kok bodoh ya, nggak bisa menyelesaikan soal matematika ini
    • Bapak : Hemm, bapak rasa kamu ini udah kerja keras ya dari tadi, anak yang punya keinginan untuk tahu lebih banyak
  • Dari percakapan di atas, kita bisa melihat bahwa bapak bisa mengambil bagian yang berharga dari hal tersebut, mungkin tidak disadari dari anaknya, tapi dari kesadaran si anak yang merasa bodoh itulah justru kelebihannya, dia anak yang mempunyai keinginan untuk tahu lebih dari biasa.  
MEMBERI NILAI TAMBAH (+) 
  • Kata lainnya adalah Bersyukur 
  • Bukan menafikkan hal negatif 
  • Misalnya : Oke, aku harus mengulang mata kuliah tertentu, aku mengapresiasi bahwa aku memang harus mengulang agar menunjang nilaiku, dan aku berpikir bahwa "oke, aku akan lebih paham mengenai mata kuliah ini, karena aku kuliah lebih dari teman - teman yang lain" 
Mengakuinya, bukan memuji, tanpa harus menafikkan hal yang negatif, konten boleh saja negatif, tetapi cara Harus Konstruktif. 
Satu contoh lagi "Kamu gendut, tapi cantik dan nggak bosen kalo dilihat" dengan "kamu cantik, tapi kamu gendut" mana yang lebih enak dan senang untuk didengar?

You see?
Banyak tantangan untuk bisa Berkomunikasi Apresiatif, memberi apresiasi kepada diri sendiri maupun orang lain. Sangat MENANTANG memang ketika kita harus mengapresiasi orang/ hal yang :
  1.  Berbeda Pendapat. (Tidak menyetujui tapi tetap apresiasi)
  2. Posisinya di bawah kita (mungkin adik, junior, dll)
  3. Kegagalan
  4. Orang yang tidak Disukai (dibenci)
  5. Orang yang gagal dan dibenci. Beuh, susahnya.. tapi menantang. hehe
Untuk melatih ketrampilan ini, kita bisa mulai dengan mengapresiasi diri sendiri. Bagaimana bisa kita mengapresiasi orang lain kalau tidak mengapresiasi diri sendiri.?

LET'S TRY ! DO OUR BEST !


2 komentar: