Sore ini, di
kamar kosan, ditemani suara hujan, aku niatkan
untuk menulis
Hemm… mungkin terbilang lebay, alay, atau sok romantis.
Tapi inilah caraku untuk sedikit meluapkan perasaan.
Dear you,
sebenernya aku masih belum bisa membayangkan siapakah “kamu” yang aku maksud
ini. Hahaha. Tapi, tapi, tapi… akhir – akhir ini aku dijejali rasa khawatir.
Khawatir ? Khawatir apa ya…
Jadi begini, mungkin sedikit iri dengan beberapa kawan sebaya yang mampu bercerita tentang kekasihnya, atau orang lain yang mendekati mereka, atau orang yang sedang mereka kagumi.
Jadi begini, mungkin sedikit iri dengan beberapa kawan sebaya yang mampu bercerita tentang kekasihnya, atau orang lain yang mendekati mereka, atau orang yang sedang mereka kagumi.
Kamu perlu tahu,
bahwa saat ini tidak ada tanda – tanda ada seorang laki – laki yang mendekati
aku. Menyedihkan. Tapi lebih menyedihkan lagi, bahkan aku belum mempunyai rasa
kagum atau tertarik kepada seorang laki – laki manapun. Huft. Hahaha…
Sepertinya itulah
yang membuatku khawatir. Dan aku berharap kamulah pereda rasa khawatir ini.
#eeeaaakk. (Entah kapan kamu akan datang)
Baiklah, saat
ini sebenernya secara tiba – tiba aku memiliki harapan terhadap dirimu. Dirimu
yang nantinya akan menjalani hidup bersama denganku. #prikitiuwwh
Jadi, karena minggu lalu aku belajar mengenai emotional intelligence, aku jadi berharap bahwa kamu memiliki emotional intelligence yang tinggi. Karena kata dosenku, dalam berumah tangga, hanya cukup satu orang saja yang memiliki EI yang tinggi untuk bisa menyelamatkan rumah tangga. Karena sepertinya aku bukan yang memilikinya, jadi aku mengharapkan dirimu untuk memilikinya. Wkwkwk. #maksabanget
Lanjut, terus ya, dari dulu aku mengharapkan suami yang mirip dengan bapak. Kenapa bapak ? Aku kagum dengan beliau karena sifat – sifat beliau yang sederhana, bijaksana, dan pokoknya Bapak banget. Rasa – rasanya bapak multi talent, apa – apa bisa. Mulai dari benerin lampu, listrik, bahkan masak pun bapak bisa. Hehe.
Dan aku juga mendambakan bisa bertemu dengan dirimu yang mampu membuatku menampilkan aku apa adanya, tentunya, hahaha.
Dan yang terakhir, yang paling utama, kamu mampu menjadi imamku, membuatku semakin cinta kepada Allah. Sama – sama belajar dan beramal soleh. Hehe.
Dan kamu perlu tahu, saat aku menulis ini, aku menulis dengan senyum – senyum sambil menebak – nebak siapakah kamu ? wkwk.
Karena lagi hujan, semoga harapan yang menjadi doaku ini terkabul. Aamiin..
Tapi yang jelas, wahai calon suami,,, kamu tidak perlu khawatir, tidak perlu minder dengan harapanku tadi, mungkin kamu tidak merasa mempunyai hal – hal di atas… tapi sebenernya kamu punya itu kok. Bahkan lebih dari itu. Bagiku, kamu lebih keren dari harapan – harapanku tadi. Hahahaha..
See you… semoga
kau tidak menyesal memilih aku sebagai ibu dari anak – anakmu nanti.
Jatinangor, 8 November 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar