Kamis, 28 Desember 2017

Cerpen #2 : Perempuan Kereta

Aku ingat betul pertama kali melihatmu. Sore itu, aku tergopoh – gopoh menuju kereta api, berlarian mengejar pintu kereta agar bisa mendapatkan tempat duduk. Seperti biasa, kereta lokal jurusan Jogja-Solo tidak pernah sepi penumpang. Kamu, dengan tampilan sederhana, rok jeans, kemeja coklat, dan jilbab instan seperti anak SD, dengan tenang tidak ikut berdesakan demi meraih kursi yang terbilang limited edition itu. Bahkan kamu mempersilahkan orang-orang untuk masuk terlebih dahulu. Aku membatin “Mungkin perempuan ini sedang sedih, depresi atau apalah itu yang jelas sedang tidak punya semangat, daya juang rendah sehingga tidak ada usaha untuk memenangkan kursi di dalam kereta itu”.
Ceritamu ternyata tidak berhenti saat itu juga. Hingga di dalam kereta pun, lakumu mencuri perhatianku lagi ketika ada orang lain yang menawarimu tempat duduk, kamu malah menolaknya dan memberikannya kepada perempuan lain. Aku membatin lagi, “Ahh, perempuan ini sok baik banget. Sok kuat mungkin.” Meski diri ini sebenarnya penasaran apa yang mendasarimu berlaku seperti itu, duhai perempuan kereta.
***
Sepertinya, alam sedang mendukungku di hari Sabtu pagi, seminggu setelah pertama kali aku melihatmu. Dengan latar yang sedikit berbeda. Masih di stasiun, hanya saja aku sedang tidak terburu-buru. Aku duduk di peron menunggu kereta local, kali ini jurusan sebaliknya, Solo-Jogja. Saat ku menoleh ke kanan, kujumpai pemandangan yang meneduhkan. Kamu, si perempuan kereta yang sedang membeli dagangan simbok2 di emperan stasiun. Aku mendengar samar2 dialogmu dengan simbok itu. Kamu membeli sedikit jajanan. Dan simbok tidak memiliki uang kembalian. Kamu, dengan ringan berucap, “Sudah mbok, uang kembalian buat mbok saja”. Simbok itu menjawab, “Mbak, tapi uangnya serratus ribu, jajannya cuma lima ribu”. Ya, kamu benar-benar tidak meminta uang kembalian itu.
***
Dan saat ini, masih dengan latar yang mirip. Stasiun Solo Balapan, sore hari. Aku melihat pemandangan yang lagi-lagi menyejukkanku. Melihat sosok yang sama dengan semburat wajah yang meski sedikit keriput tetapi tetap cantik bagiku. Perempuan Kereta yang sudah belasan tahun selalu bangun lebih pagi sebelum ku membuka mata. Iya kamu yang menyembunyikan kesedihan saat anak kita berpamitan hendak ke luar kota. Memeluk anak laki-laki kita dan berucap lirih, “Nak Lanang, kamu anak yang kuat. Tidak berjuang mendapat kursi di kereta bukan berarti kamu lemah. Memberikan tempat duduk buat ibu2, anak2, perempuan, dan orang tua itu perbuatan mulia. Tidak menawar dagangan di pasar atau emperan itu bukan berarti kamu bodoh. Niatkan buat sedekah ya, Le. Di manapun, kapanpun, semoga Allah mampukan anakku ini, menguatkan anakku ini untuk bisa berbuat baik meski kecil.”

Tuhan memang Maha Baik. Menyandingkanku dengan perempuan kuat. Aku ingin menangis melihat pemandangan ini, tapi tidak. Aku jaim di depan istriku. Yang aku tampilkan adalah aku Tersenyum. Senyum bahagia, senyum penuh kesyukuran. 

Minggu, 19 Juni 2016

Cerpen : Benalu Masa Lalu

Sialnya, seminggu lagi sudah lebaran.  Mau tidak mau Arumi harus pulang ke rumah nenek di Purwokerto.  Di kala banyak temannya berbahagia bisa pulang kampung, kali ini tidak untuk Arumi. Arumi sejak kecil sudah yatim piatu, tinggal di rumah nenek bersama kakak perempuan dan pamannya.
“Rum, emang kenapa sih kamu nggak seneng kalau mau pulang kampung ? Tanya aja sih, tapi kalau nggak mau cerita juga nggakpapa.”, tanya Ashima, sohib yang bertemu dari awal pendaftaran kuliah sampai sekarang, berjuang skripsi bareng.
“Bukan apa – apa, aku cuma nggak mau ketemu paman, im.”
“Hemm, ada apa dengan pamanmu, Rum?”, Ashima bertanya dengan sangat berhati – hati, pelan dan suara yang lirih.
Rasanya tiba – tiba sepi. Restoran tempat mereka bercakap – cakap berada di pinggir jalan yang ramai, tapi keheningan hadir dalam pembicaraan dua gadis itu. Arumi diam agak lama dengan tatapan menerawang. Hingga tak berapa lama, pundak Arumi berguncang dan menangislah dia. Dengan reflex, Ashima memeluk Arumi dan mengelus kepalanya, menyediakan pundak tempat menangis sejadi – jadinya. Serasa beban yang telah dipendam lama oleh Arumi dan baru bisa lepas saat ini, tumpah sejadinya di pelukan perempuan gempal yang selalu menemaninya.  Ashima tidak buru – buru bertanya ini itu, ia paham bahwa ada sesuatu yang berat membebani seorang dalam pelukannya. Hingga akhirnya Arumi bangkit dan mulai bercerita.
Cerita lampau yang tak pernah ia ceritakan kepada siapapun, kecuali saat ini, kepada Ashima yang dengan mudahnya lepas begitu saja meski lidahnya kelu. Kurang lebih delapan belas tahun lalu, tepatnya di rumah nenek, hanya ada dia dan pamannya. Ketika nenek ke pasar dan kakak perempuan ke sekolah menjadi waktu yang menyenangkan bagi sang paman tapi menyiksa bagi Arumi.
Saat itu Arumi menonton televisi di ruang tengah. Dengan suara yang keras sang paman memanggil Arumi dari kamarnya, “Arumi, cepat ke sini !” Arumi menurut saja apa yang diminta paman. Setelah masuk kamar, pintu langsung dikunci oleh paman. Arumi bingung dan bertanya kemudian dijawab paman tidak apa – apa. Saat Arumi ingin keluar kamar, tetapi tidak diperbolehkan paman. Arumi menangis keras hingga akhirnya paman mengancam “jika tidak berhenti menangis akan dipukul”. Sejak hari itulah, tubuh mungil Arumi sudah tidak lagi suci. Kejadian itu berlangsung hingga akhirnya Arumi pindah ke luar kota karena hendak diasuh oleh orangtua barunya yang akan mengadopsi. Selama kurang lebih setengah tahun Arumi mengalami kejadian itu. Dan tak ada satu orangpun yang mengetahui karena diancam oleh paman.
Arumi telah berhenti bercerita, tapi air mata masih menetes meski tidak tersedu – sedu. Ashima hanya bisa menatapnya tanpa berkomentar. Kemudian keduanya saling bertatap dan kembali berpelukan. Dalam pelukan, Ashima membatin, “hemm, inikah yang selama ini membuat Arumi nggak mau nikah? Yang nggak pernah tertarik mengengarkan ceritaku saat kasmaran dengan seorang teman lelaki di fakultas? Atau jangan – jangan… ahh…sudahlah… aku terlalu berprasangka dan menebak – nebak…”
Dalam hati pula Arumi berbicara, “Seandainya kau tahu, im.. aku memendam rasa padamu. Tapi aku tahu itu akan merusak hubungan kita dan menyakitimu. Aku hanya memendam dan tak tahu sampai kapan.”  

Jumat, 27 Mei 2016

Selalu Ada Celah

Tahukah kamu ?

Dulu saat aku mulai menginjak usia baligh, ada keinginan untuk bisa berjilbab. Tapi ada yang membuatku ragu, ibuku belum mengenakan jilbab. Lantas mengapa aku harus ragu dengan hal itu? Saat itu, aku merasa tidak enak hati, takut dibilang sok alim. Selain itu, ada hal lain yang mengganggu niatku untuk berjilbab. Aku takut kalau perilakuku tidak mencerminkan perempuan berjilbab yang solehah. 

Tapi akhirnya, aku mengenakan jilbab 

Tahukah kamu ?

Dulu saat aku sudah mengenakan jilbab dan baju yang tidak ketat, dengan bawahan rok. Tiba - tiba menginginkan bisa memakai pakaian yang up date, gaul, dan ingin mengenakan celana jeans seperti remaja kebanyakan. Aku membayangkan betapa bebasnya kalau mengenakan celana jeans saat itu. 

Hingga akhirnya, aku membeli celana jeans dan memakainya. Sempat merasa senang, serasa bebas bergerak tetapi akhirnya rasa berdosa datang dengan sendirinya. 

Akhirnya lagi, aku menyimpan celana jeans di lemari saja. Dan kembali mengenakan pakaian longgar, meski jilbabku tidak besar. Dan ketika sudah menikmatinya, ada keinginan untuk berjilbab syar'i yang menutup dada. Tetapi pada saat yang sama pula, timbul kegalauan. Takut nggak istiqomah, takut dibilang sok alim, dijauhin temen karena dipandang jaga jarak dengan orang2, dan banyak lagi. 

Akhirnya, aku memutuskan mengenakan jilbab syar'i yang menutup dada meski belum besar sangat. Setelah berhasil mengenakan jilbab itu, kadang - kadang bahkan sering hati ini terbersit rasa bangga pada diri sendiri yang secara tidak langsung meremehkan orang lain. Masya Allah... Bahkan terkadang menginginkan perhatian dari orang lain. Seolah - olah ingin mengumumkan bahwa 'aku sekarang udah syar'i lho'. Astaghfirullah... 

Tahukah kamu?

Dulu saat diberi uang saku yang pas - pasan, selalu berpikir lama untuk bersedekah, seolah- olah dengan memberikan sedekah akan menjadikanku miskin. 

Kemudian, setelah mampu dengan mudah mengeluarkan uang untuk bersedekah, tiba - tiba muncul rasa bahwa 'aku sudah menjadi manusia yang baik', aku sudah berjasa dan memberi manfaat buat orang lain, apakah ini perasaan sombong ? Astaghfirullah...

Selalu ada celah bagi Syaithan untuk membisikkan kepada manusia agar manusia tidak mendapatkan apa - apa dari yang diperbuatnya kecuali dosa. Bahkan di saat manusia berbuat kebaikan pun, syaithan tetap membisikkan agar manusia menjadi sombong, angkuh, riya', dan lainnya. 

Tapi manusia diberikan kesempatan untuk memilih di antara pilihan tersebut, manusia memang lemah, tetapi ada Allah tempat bergantung dan memohon kekuatan. Dia yang memberi kekuatan hingga akhirnya manusia bisa memilih pilihan yang benar. Dia yang memberikan izin kepada manusia hingga akhirnya kembali ke jalan yang lurus. Maka, berdoa dan berdoa, memohon kepada Allah agar selalu dikuatkan, diberikan petunjuk kemana harus melangkah. 

Semoga kita selalu dalam perlindungan Allah SWT. Aamiin.


Kamis, 31 Maret 2016

IT’S OK TO BE SAD

“Sedih ? It’s Oke.” Marah ?  Orapopo”.  “Senang ? Boleh banget”
Salah satu hal yang disampaikan dalam Film Animasi yang berjudul Inside Out. Waow ! Pasti dalam benak kalian bertanya, “kok boleh? Kan emosi negative. Merugikan diri sendiri maupun orang lain” Eittss… tunggu dulu, ternyata emosi yang kita miliki, semuanya ada maksud lho. Nah dalam Animasi Inside Out ini mengajarkan kita beberapa hal sederhana  mengenai Emosi.
1.       Emosi merupakan energy pendorong manusia
Manusia bisa bergerak karena ada energy yang mendorong, dan energy pendorong itu adalah emosi kita. Contoh ketika kita sedih, kita tidak akan memiliki energy untuk melakukan suatu hal sekalipun itu adalah hobi kita. Ketika kita senang, kita akan bersemangat melakukan banyak hal sampai lelah tidak terasa.

2.       Emosi adalah pesan dari diri kita
Nah, ini dia pesan utama dari film. Bahwa setiap emosi yang kita miliki membawa pesan masing – masing yang bermanfaat lho. It’s ok to be sad sometimes. Bahkan emosi sedih pun tidak perlu disingkirkan dan dijauhi, dengan emosi sedih, kita bisa menangis dan itu akan membuat kita lebih tenang, serta memberikan tanda atau sinyal kepada orang lain bahwa kita sedang membutuhkan pertolongan. Marah, marah itu perlu karena marah menyampaikan suatu pesan bahwa hal itu seharusnya tidak terjadi alias kita berhak mendapat keadilan. Namun, cara marah pun harus konstruktif, tepat dan di saat yang tepat agar tidak merusak lingkungan. ‘Takut’ membuat kita waspada dan melakukan persiapan cukup untuk kita dalam kondisi aman. ‘Jijik’ membantu kita untuk menjauhi hal yang dapat meracuni kita. Semua emosi membawa pesan masing – masing.


Kita perlu menyadari emosi yang sedang kita rasakan, kitalah yang punya control. Boleh mengekspresikan emosi, tapi ekspresikan secara konstruktif yaa…

3.       Dengan mengenal emosi, kita belajar Empati
Menyadari emosi yang sedang terjadi dalam diri sendiri itu merupakan salah satu ciri Cerdas secara Emosi lho.  Dengan menyadari emosi kita, kita bisa mengontrol emosi kita sendiri agar berekspresi sewajarnya. Dengan kita mengenal emosi kita, kita akan mampu menyadari tanda – tanda emosi yang dirasakan orang lain. Dengan begitu, kita akan memahami apa yang dibutuhkan orang lain. Asyik bukan ? Kita akan tepat sasaran dalam membantu teman, orang terdekat kita, dsb.
4.       Emosi adalah kacamata kita dalam memandang dunia
Salah satu bagian dalam film yang menarik adalah ketika Joy dan Sadness ngobrol mengenai memori terbaik bagi mereka masing - masing. Ketika mereka membicarakan satu memori, kejadian tersebut menjadi berbeda tergantung dari Joy atau sadness yang mengingatnya. 




Minggu, 08 November 2015

Tulisan Untuk Kamu yang Aku Tunggu

Sore ini, di kamar kosan, ditemani suara  hujan, aku niatkan untuk menulis

Hemm…  mungkin terbilang lebay, alay, atau sok romantis. Tapi inilah caraku untuk sedikit meluapkan perasaan.

Dear you, sebenernya aku masih belum bisa membayangkan siapakah “kamu” yang aku maksud ini. Hahaha. Tapi, tapi, tapi… akhir – akhir ini aku dijejali rasa khawatir. Khawatir ? Khawatir apa ya…

Jadi begini, mungkin sedikit iri dengan beberapa kawan sebaya yang mampu bercerita tentang kekasihnya, atau orang lain yang mendekati mereka, atau orang yang sedang mereka kagumi.
Kamu perlu tahu, bahwa saat ini tidak ada tanda – tanda ada seorang laki – laki yang mendekati aku. Menyedihkan. Tapi lebih menyedihkan lagi, bahkan aku belum mempunyai rasa kagum atau tertarik kepada seorang laki – laki manapun. Huft. Hahaha…
Sepertinya itulah yang membuatku khawatir. Dan aku berharap kamulah pereda rasa khawatir ini. #eeeaaakk. (Entah kapan kamu akan datang)

Baiklah, saat ini sebenernya secara tiba – tiba aku memiliki harapan terhadap dirimu. Dirimu yang nantinya akan menjalani hidup bersama denganku. #prikitiuwwh

Jadi, karena minggu lalu aku belajar mengenai emotional intelligence, aku jadi berharap bahwa kamu memiliki emotional intelligence yang tinggi. Karena kata dosenku, dalam berumah tangga, hanya cukup satu orang saja yang memiliki EI yang tinggi untuk bisa menyelamatkan rumah tangga. Karena sepertinya aku bukan yang memilikinya, jadi aku mengharapkan dirimu untuk memilikinya. Wkwkwk. #maksabanget

Lanjut, terus ya, dari dulu aku mengharapkan suami yang mirip dengan bapak. Kenapa bapak ? Aku kagum dengan beliau karena sifat – sifat beliau yang sederhana, bijaksana, dan pokoknya Bapak banget. Rasa – rasanya bapak multi talent, apa – apa bisa. Mulai dari benerin lampu, listrik, bahkan masak pun bapak bisa. Hehe.

Dan aku juga mendambakan bisa bertemu dengan dirimu yang mampu membuatku menampilkan aku apa adanya, tentunya, hahaha.

Dan yang terakhir, yang paling utama, kamu mampu menjadi imamku, membuatku semakin cinta kepada Allah. Sama – sama belajar dan beramal soleh. Hehe.

Dan kamu perlu tahu, saat aku menulis ini, aku menulis dengan senyum – senyum sambil menebak – nebak siapakah kamu ? wkwk.

Karena lagi hujan, semoga harapan yang menjadi doaku ini terkabul. Aamiin..

Tapi yang jelas, wahai calon suami,,, kamu tidak perlu khawatir, tidak perlu minder dengan harapanku tadi, mungkin kamu tidak merasa mempunyai hal – hal di atas… tapi sebenernya kamu punya itu kok. Bahkan lebih dari itu. Bagiku, kamu lebih keren dari harapan – harapanku tadi. Hahahaha..
See you… semoga kau tidak menyesal memilih aku sebagai ibu dari anak – anakmu nanti.

Jatinangor, 8 November 2015