Kamis, 06 November 2014

Wish You Were Here - Endah n Rhesa

I always be here, waiting for you.. coming back home
I keep our flowers grow since we planted the seed many years ago
And I stare at the moon hope we'll meet there 
Hope we'll meet there...
Cause I miss You
I wish You were here

I know its hard for you to stay
and so I let you go
But you promised to never let me down and said that you love me so
And I stare at the moon and hope we’ll meet there, hope we’ll meet there
‘cause I miss you.. 
I wish you were here

Make your dreams fulfilled, and don’t forget to take me with you someday

-11 Desember 2011-

Minggu, 12 Oktober 2014

Kuatkan pundaknya, Mampukan dia yang terpilih

Terinspirasi dari sahabat - sahabat di luar sana yang mengabdikan diri untuk menjadi pemimpin

Dia yang menjadi pemimpin
Kita tidak tahu persis alasan apa yang mendasarinya untuk berkenan menjadi pemimpin
Entah karena keinginan sendiri hingga akhirnya mengajukan diri atau karena diminta orang lain
Kita tidak tahu
Yang jelas, peran yang disandangnya bukanlah suatu hal yang biasa
Belum tentu peran ini akan baik jadinya jika diperankan orang lain, tidak ada yang bisa menjamin pula akan lebih keren jika orang lain yang menyandang

Tujuannya nggak muluk - muluk, sekedar untuk menyejahterakan anggotanya
Tapi yang didapatnya, tak lain tak bukan cacian dari anggotanya
Dia yang berusaha untuk memenuhi keinginan anggota, kebutuhan mereka
Tapi selalu saja ada yang kurang

Usahanya untuk bisa merangkul anggota agar utuh sampai akhir dalam berjuang, ternyata tidak mudah
Sekedar konfirmasi kehadiran saja, mungkin hal yang membahagiakan baginya
Usahanya untuk selalu menampilkan perilaku yang menyenangkan, ceria, di depan umum, perlu diacungi jempol
Karena kita tidak tahu seberat apa beban dan amanah yang ditanggungnya

Memang langka mempunyai orang seperti dia yang itu, dia yang di sana, dan dia yang di ujung situ, dan dia lainnya

Kuatkan pundaknya dalam menanggung amanah yang diberikan
Mampukan dia di kala lelah menghadang, di saat - saat tersulitnya

"Amanah tidak salah dalam memilih pundaknya" 

Selasa, 30 September 2014

Memberi sebelum Meminta

Aku meminta mereka agar datang tepat waktu
jika terlambat, aku kesal

tapi di sisi lain, aku pun pernah terlambat. baik sengaja menerlambatkan diri alias menunda datang dengan alasan "paling yg lain jg telat, jam indonesia emang ngaret, aku bukan orang yg terlalu penting di sana jadi tidak masalah kalau datang terlambat, dan banyak alasan lainnya",
maupun memang benar - benar ada hambatan sehingga tidak bisa tepat waktu, karena ada acara sebelumnya yang molor, atau macet di jalan, atau kecelakaan, dan banyak hal yang tidak terduga...

baiklah, tidak jadi kesal, introspeksi diri, ya. harus berusaha selalu berbenah dan melakukan yg terbaik

Apresiasi untuk kita semua yang bisa datang tepat waktu. sebuah perjuangan, yang kita tidak tahu, mungkin dia telah mengorbankan hal - hal penting hingga akhirnya dia datang tepat waktu.

Aku meminta mereka agar fokus memperhatikan aku ketika presentasi di depan kelas atau ketika aku mau sosialisasi sebuah acara kampus
Jika tidak, aku merasa tidak dihargai

tapi di sisi lain, aku pun pernah berada di posisi itu. Merasakan lelah, mengantuk, tidak fokus karena sedang memikirkan hal lain yang mendesak. Atau pernah juga merasa bosan karena presentasi kurang menarik atau materi yang diberikan tidak sesuai minat.  Rasanya ingin segera selesai, cepat pulang dan mengerjakan hal lain yang lebih penting bagiku.

Ya, aku sadar, apa yang aku sampaikan tidak selalu menjadi minat bagi yang lain, dan cara penyampaianku masih sangat jauh dari menarik. Di sini, aku belajar bagaimana agar ketika di depan sebisa mungkin menyampaikan dengan cara yang menarik agar teman juga menangkap apa yang aku sampaikan.
Aku juga sadar, betapa pentingnya menghargai, aku belajar bagaimana agar tetap stay, mendengarkan apa yang disampaikan orang lain, melawan rasa malas dan bosan. Karena di sinilah seni mendengarkan.

Apresiasi untuk kita semua yang bisa bertahan untuk selalu menghargai, yang mungkin kita tidak tahu dia telah berkorban untuk melawan segenap rasa yang tidak mengenakkan dalam dirinya.

Pada akhirnya memang kita harus belajar memandang peristiwa, hal, atau apapun tidak hanya dari satu sudut pandang :)



Bapak

Bapak. Penyemangat di saat penat. Pembangkit di saat sakit.

Entah kenapa, di saat suasana hati lagi - lagi tidak bersemangat, down, atau apalah sebutannya. Tanpa bapak bertanya pun, sepertinya beliau tahu kondisiku. Tanpa Bapak memaksaku untuk bercerita, dengan sendirinya aku bisa menceritakan apa yang aku alami. Bapak, tempat yang nyaman untuk bercerita, sharing, berdiskusi. Beliau banyak memberi wejangan - wejangan, nasihat, banyak pelajaran hidup yang aku ambil dari beliau. Sosok yang menginspirasi.

Baiklah, aku akan bercerita singkat mengenai perbincanganku dengan Bapak ketika di telepon. Pada saat itu, aku bercerita bahwa aku akhir - akhir ini dipertemukan dengan beberapa teman yang hebat. Bagiku sangat keren. Mereka berbeda dengan mahasiswa lainnya. Begitu menginspirasi. Pertama, ada temanku yang punya usaha sendiri dan sekarang bisa sukses, membiayai kuliah sendiri, dan dia punya cita - cita bisa hidup mandiri di usia 25 tahun. Padahal, jika dilihat dari latar belakangnya, dia berasal dari keluarga yang broken home. Dia tinggal bersama neneknya, tanpa memperoleh kasih sayang dari ibunya. Tapi, lihatlah sekarang, seorang perempuan mungil yang sekarang sukses menjalani bisnisnya, akademiknya pun tidak diragukan lagi. kurang keren apa coba. Yang kedua, ini cerita dari adik tingkat, dari kecil tinggal di panti asuhan karena memang dia anak yatim piatu, tidak pernah bertemu dengan orang tuanya. Tapi sekarang, dia bisa  kuliah dengan biaya sendiri, bahkan dia berencana bisa membantu adik -adik panti buat sekolah juga. Keren banget kan. Subhanallah pokoknya.

Setelah panjang lebar aku bercerita ke bapak, beliau menanggapi dan berkata, "mbak ika juga menginspirasi kok, tapi mbak ika aja yang nggak tahu". :) Oh, Bapaak... sedetik itupun rasanya trenyuh. Aku kira bapak bakal mengharuskan aku untuk lebih giat, tapi Bapak malah memuji. Bapak selalu menerima prestasiku yang apa adanya, Bapak tidak pernah marah dengan pencapaianku yang kurang memuaskan. Saat ini aku masih meminta segalanya dari Bapak, belum memberi sesuatu apapun ke bapak.

Doaku, Pak... semoga Allah menjadikanku anak perempuan yang solehah. Karena hanya dengan itu aku bisa mengantarkan bapak ibu ke syurga :')

Amiin




Kamis, 07 Agustus 2014

Mereka bilang...

Mereka bilang... Aku sabar
Tapi faktanya, aku sedang memaksa diri untuk memendam apa yang dirasakan. Menumpuknya, menahan, dan jika tak tertahan barulah meluap dalam bentuk tangisan yang lirih.

Mereka bilang... Aku pendiam
Ya ! Itu juga tidak salah. tapi mereka tidak tahu, bahwa dalam hati dan pikiran ini banyak berbicara. Hanya saja tidak sampai keluar untuk disuarakan

Mereka bilang... Aku cantik
Mungkin iya cantik wajah, sesekali. Tapi belum untuk cantik kepribadian. Belum cantik otaknya serta hatinya.

Mereka bilang... Aku Alim
Tapi bahkan, aku sendiri sering melanggar apa yang pernah aku sampaikan. Aku masih memaksa diri untuk beribadah. Aku sering kesal dan marah kepada diri sendiri, karena tidak bisa melakukan apa yang aku mengetahuinya.

Banyak sekali penilaian orang lain terhadap diri ini, aku tidak tahu itu sebuah pujian atau ejekan, yang jelas mereka mencoba mengenaliku. Penilaian mereka pun seolah  menjadi harapan mereka akan tingkahku. Bahkan bisa jadi, sifat dan sikap yang aku tampilkan berasal dari penilaian orang di sekitarku. Semoga apa yang mereka bilang, menjadi doa yang baik, memacu serta memotivasi diri ini untuk terus memperbaiki diri.