Sialnya, seminggu
lagi sudah lebaran. Mau tidak mau Arumi
harus pulang ke rumah nenek di Purwokerto.
Di kala banyak temannya berbahagia bisa pulang kampung, kali ini tidak
untuk Arumi. Arumi sejak kecil sudah yatim piatu, tinggal di rumah nenek
bersama kakak perempuan dan pamannya.
“Rum, emang
kenapa sih kamu nggak seneng kalau mau pulang kampung ? Tanya aja sih, tapi
kalau nggak mau cerita juga nggakpapa.”, tanya Ashima, sohib yang bertemu dari
awal pendaftaran kuliah sampai sekarang, berjuang skripsi bareng.
“Bukan apa –
apa, aku cuma nggak mau ketemu paman, im.”
“Hemm, ada apa
dengan pamanmu, Rum?”, Ashima bertanya dengan sangat berhati – hati, pelan dan
suara yang lirih.
Rasanya tiba – tiba
sepi. Restoran tempat mereka bercakap – cakap berada di pinggir jalan yang
ramai, tapi keheningan hadir dalam pembicaraan dua gadis itu. Arumi diam agak
lama dengan tatapan menerawang. Hingga tak berapa lama, pundak Arumi berguncang
dan menangislah dia. Dengan reflex, Ashima memeluk Arumi dan mengelus
kepalanya, menyediakan pundak tempat menangis sejadi – jadinya. Serasa beban
yang telah dipendam lama oleh Arumi dan baru bisa lepas saat ini, tumpah
sejadinya di pelukan perempuan gempal yang selalu menemaninya. Ashima tidak buru – buru bertanya ini itu, ia
paham bahwa ada sesuatu yang berat membebani seorang dalam pelukannya. Hingga
akhirnya Arumi bangkit dan mulai bercerita.
Cerita lampau
yang tak pernah ia ceritakan kepada siapapun, kecuali saat ini, kepada Ashima
yang dengan mudahnya lepas begitu saja meski lidahnya kelu. Kurang lebih
delapan belas tahun lalu, tepatnya di rumah nenek, hanya ada dia dan pamannya.
Ketika nenek ke pasar dan kakak perempuan ke sekolah menjadi waktu yang
menyenangkan bagi sang paman tapi menyiksa bagi Arumi.
Saat itu Arumi
menonton televisi di ruang tengah. Dengan suara yang keras sang paman memanggil
Arumi dari kamarnya, “Arumi, cepat ke sini !” Arumi menurut saja apa yang
diminta paman. Setelah masuk kamar, pintu langsung dikunci oleh paman. Arumi
bingung dan bertanya kemudian dijawab paman tidak apa – apa. Saat Arumi ingin
keluar kamar, tetapi tidak diperbolehkan paman. Arumi menangis keras hingga
akhirnya paman mengancam “jika tidak berhenti menangis akan dipukul”. Sejak
hari itulah, tubuh mungil Arumi sudah tidak lagi suci. Kejadian itu berlangsung
hingga akhirnya Arumi pindah ke luar kota karena hendak diasuh oleh orangtua
barunya yang akan mengadopsi. Selama kurang lebih setengah tahun Arumi
mengalami kejadian itu. Dan tak ada satu orangpun yang mengetahui karena
diancam oleh paman.
Arumi telah
berhenti bercerita, tapi air mata masih menetes meski tidak tersedu – sedu.
Ashima hanya bisa menatapnya tanpa berkomentar. Kemudian keduanya saling
bertatap dan kembali berpelukan. Dalam pelukan, Ashima membatin, “hemm, inikah
yang selama ini membuat Arumi nggak mau nikah? Yang nggak pernah tertarik
mengengarkan ceritaku saat kasmaran dengan seorang teman lelaki di fakultas?
Atau jangan – jangan… ahh…sudahlah… aku terlalu berprasangka dan menebak –
nebak…”
Dalam hati pula
Arumi berbicara, “Seandainya kau tahu, im.. aku memendam rasa padamu. Tapi aku
tahu itu akan merusak hubungan kita dan menyakitimu. Aku hanya memendam dan tak
tahu sampai kapan.”