Jumat, 27 Mei 2016

Selalu Ada Celah

Tahukah kamu ?

Dulu saat aku mulai menginjak usia baligh, ada keinginan untuk bisa berjilbab. Tapi ada yang membuatku ragu, ibuku belum mengenakan jilbab. Lantas mengapa aku harus ragu dengan hal itu? Saat itu, aku merasa tidak enak hati, takut dibilang sok alim. Selain itu, ada hal lain yang mengganggu niatku untuk berjilbab. Aku takut kalau perilakuku tidak mencerminkan perempuan berjilbab yang solehah. 

Tapi akhirnya, aku mengenakan jilbab 

Tahukah kamu ?

Dulu saat aku sudah mengenakan jilbab dan baju yang tidak ketat, dengan bawahan rok. Tiba - tiba menginginkan bisa memakai pakaian yang up date, gaul, dan ingin mengenakan celana jeans seperti remaja kebanyakan. Aku membayangkan betapa bebasnya kalau mengenakan celana jeans saat itu. 

Hingga akhirnya, aku membeli celana jeans dan memakainya. Sempat merasa senang, serasa bebas bergerak tetapi akhirnya rasa berdosa datang dengan sendirinya. 

Akhirnya lagi, aku menyimpan celana jeans di lemari saja. Dan kembali mengenakan pakaian longgar, meski jilbabku tidak besar. Dan ketika sudah menikmatinya, ada keinginan untuk berjilbab syar'i yang menutup dada. Tetapi pada saat yang sama pula, timbul kegalauan. Takut nggak istiqomah, takut dibilang sok alim, dijauhin temen karena dipandang jaga jarak dengan orang2, dan banyak lagi. 

Akhirnya, aku memutuskan mengenakan jilbab syar'i yang menutup dada meski belum besar sangat. Setelah berhasil mengenakan jilbab itu, kadang - kadang bahkan sering hati ini terbersit rasa bangga pada diri sendiri yang secara tidak langsung meremehkan orang lain. Masya Allah... Bahkan terkadang menginginkan perhatian dari orang lain. Seolah - olah ingin mengumumkan bahwa 'aku sekarang udah syar'i lho'. Astaghfirullah... 

Tahukah kamu?

Dulu saat diberi uang saku yang pas - pasan, selalu berpikir lama untuk bersedekah, seolah- olah dengan memberikan sedekah akan menjadikanku miskin. 

Kemudian, setelah mampu dengan mudah mengeluarkan uang untuk bersedekah, tiba - tiba muncul rasa bahwa 'aku sudah menjadi manusia yang baik', aku sudah berjasa dan memberi manfaat buat orang lain, apakah ini perasaan sombong ? Astaghfirullah...

Selalu ada celah bagi Syaithan untuk membisikkan kepada manusia agar manusia tidak mendapatkan apa - apa dari yang diperbuatnya kecuali dosa. Bahkan di saat manusia berbuat kebaikan pun, syaithan tetap membisikkan agar manusia menjadi sombong, angkuh, riya', dan lainnya. 

Tapi manusia diberikan kesempatan untuk memilih di antara pilihan tersebut, manusia memang lemah, tetapi ada Allah tempat bergantung dan memohon kekuatan. Dia yang memberi kekuatan hingga akhirnya manusia bisa memilih pilihan yang benar. Dia yang memberikan izin kepada manusia hingga akhirnya kembali ke jalan yang lurus. Maka, berdoa dan berdoa, memohon kepada Allah agar selalu dikuatkan, diberikan petunjuk kemana harus melangkah. 

Semoga kita selalu dalam perlindungan Allah SWT. Aamiin.


Kamis, 31 Maret 2016

IT’S OK TO BE SAD

“Sedih ? It’s Oke.” Marah ?  Orapopo”.  “Senang ? Boleh banget”
Salah satu hal yang disampaikan dalam Film Animasi yang berjudul Inside Out. Waow ! Pasti dalam benak kalian bertanya, “kok boleh? Kan emosi negative. Merugikan diri sendiri maupun orang lain” Eittss… tunggu dulu, ternyata emosi yang kita miliki, semuanya ada maksud lho. Nah dalam Animasi Inside Out ini mengajarkan kita beberapa hal sederhana  mengenai Emosi.
1.       Emosi merupakan energy pendorong manusia
Manusia bisa bergerak karena ada energy yang mendorong, dan energy pendorong itu adalah emosi kita. Contoh ketika kita sedih, kita tidak akan memiliki energy untuk melakukan suatu hal sekalipun itu adalah hobi kita. Ketika kita senang, kita akan bersemangat melakukan banyak hal sampai lelah tidak terasa.

2.       Emosi adalah pesan dari diri kita
Nah, ini dia pesan utama dari film. Bahwa setiap emosi yang kita miliki membawa pesan masing – masing yang bermanfaat lho. It’s ok to be sad sometimes. Bahkan emosi sedih pun tidak perlu disingkirkan dan dijauhi, dengan emosi sedih, kita bisa menangis dan itu akan membuat kita lebih tenang, serta memberikan tanda atau sinyal kepada orang lain bahwa kita sedang membutuhkan pertolongan. Marah, marah itu perlu karena marah menyampaikan suatu pesan bahwa hal itu seharusnya tidak terjadi alias kita berhak mendapat keadilan. Namun, cara marah pun harus konstruktif, tepat dan di saat yang tepat agar tidak merusak lingkungan. ‘Takut’ membuat kita waspada dan melakukan persiapan cukup untuk kita dalam kondisi aman. ‘Jijik’ membantu kita untuk menjauhi hal yang dapat meracuni kita. Semua emosi membawa pesan masing – masing.


Kita perlu menyadari emosi yang sedang kita rasakan, kitalah yang punya control. Boleh mengekspresikan emosi, tapi ekspresikan secara konstruktif yaa…

3.       Dengan mengenal emosi, kita belajar Empati
Menyadari emosi yang sedang terjadi dalam diri sendiri itu merupakan salah satu ciri Cerdas secara Emosi lho.  Dengan menyadari emosi kita, kita bisa mengontrol emosi kita sendiri agar berekspresi sewajarnya. Dengan kita mengenal emosi kita, kita akan mampu menyadari tanda – tanda emosi yang dirasakan orang lain. Dengan begitu, kita akan memahami apa yang dibutuhkan orang lain. Asyik bukan ? Kita akan tepat sasaran dalam membantu teman, orang terdekat kita, dsb.
4.       Emosi adalah kacamata kita dalam memandang dunia
Salah satu bagian dalam film yang menarik adalah ketika Joy dan Sadness ngobrol mengenai memori terbaik bagi mereka masing - masing. Ketika mereka membicarakan satu memori, kejadian tersebut menjadi berbeda tergantung dari Joy atau sadness yang mengingatnya. 




Minggu, 08 November 2015

Tulisan Untuk Kamu yang Aku Tunggu

Sore ini, di kamar kosan, ditemani suara  hujan, aku niatkan untuk menulis

Hemm…  mungkin terbilang lebay, alay, atau sok romantis. Tapi inilah caraku untuk sedikit meluapkan perasaan.

Dear you, sebenernya aku masih belum bisa membayangkan siapakah “kamu” yang aku maksud ini. Hahaha. Tapi, tapi, tapi… akhir – akhir ini aku dijejali rasa khawatir. Khawatir ? Khawatir apa ya…

Jadi begini, mungkin sedikit iri dengan beberapa kawan sebaya yang mampu bercerita tentang kekasihnya, atau orang lain yang mendekati mereka, atau orang yang sedang mereka kagumi.
Kamu perlu tahu, bahwa saat ini tidak ada tanda – tanda ada seorang laki – laki yang mendekati aku. Menyedihkan. Tapi lebih menyedihkan lagi, bahkan aku belum mempunyai rasa kagum atau tertarik kepada seorang laki – laki manapun. Huft. Hahaha…
Sepertinya itulah yang membuatku khawatir. Dan aku berharap kamulah pereda rasa khawatir ini. #eeeaaakk. (Entah kapan kamu akan datang)

Baiklah, saat ini sebenernya secara tiba – tiba aku memiliki harapan terhadap dirimu. Dirimu yang nantinya akan menjalani hidup bersama denganku. #prikitiuwwh

Jadi, karena minggu lalu aku belajar mengenai emotional intelligence, aku jadi berharap bahwa kamu memiliki emotional intelligence yang tinggi. Karena kata dosenku, dalam berumah tangga, hanya cukup satu orang saja yang memiliki EI yang tinggi untuk bisa menyelamatkan rumah tangga. Karena sepertinya aku bukan yang memilikinya, jadi aku mengharapkan dirimu untuk memilikinya. Wkwkwk. #maksabanget

Lanjut, terus ya, dari dulu aku mengharapkan suami yang mirip dengan bapak. Kenapa bapak ? Aku kagum dengan beliau karena sifat – sifat beliau yang sederhana, bijaksana, dan pokoknya Bapak banget. Rasa – rasanya bapak multi talent, apa – apa bisa. Mulai dari benerin lampu, listrik, bahkan masak pun bapak bisa. Hehe.

Dan aku juga mendambakan bisa bertemu dengan dirimu yang mampu membuatku menampilkan aku apa adanya, tentunya, hahaha.

Dan yang terakhir, yang paling utama, kamu mampu menjadi imamku, membuatku semakin cinta kepada Allah. Sama – sama belajar dan beramal soleh. Hehe.

Dan kamu perlu tahu, saat aku menulis ini, aku menulis dengan senyum – senyum sambil menebak – nebak siapakah kamu ? wkwk.

Karena lagi hujan, semoga harapan yang menjadi doaku ini terkabul. Aamiin..

Tapi yang jelas, wahai calon suami,,, kamu tidak perlu khawatir, tidak perlu minder dengan harapanku tadi, mungkin kamu tidak merasa mempunyai hal – hal di atas… tapi sebenernya kamu punya itu kok. Bahkan lebih dari itu. Bagiku, kamu lebih keren dari harapan – harapanku tadi. Hahahaha..
See you… semoga kau tidak menyesal memilih aku sebagai ibu dari anak – anakmu nanti.

Jatinangor, 8 November 2015


Selasa, 13 Januari 2015

"Berani karena Takut"

Aku lupa hal apa yang sedang kami bahas saat itu. Namun, aku mencatat benar tentang "Berani karena Takut" yang disampaikan bapak diujung pembicaraan kami. Hanya pembicaraan yang ringan, tapi selalu ada pembelajaran. Aku tidak bisa mengarang banyak, jadi langsung saja dengan "apa itu yang dimaksud "Berani karena Takut"?

Banyak orang yang melakukan tindakan terbilang 'berani', mulai dari hal kecil sampai yang besar, bak superhero yang ada di televisi. Nah, aku dan bapak sepakat bahwa ada rasa 'takut' yang mendahuluinya. Kami belum menyatakan bahwa ini sebuah kepastian, karena kami pun tidak melakukan penelitian ilmiah. Hehe. Tapi mari kita coba lihat beberapa contoh atau tindakan berani di bawah ini. 

Seorang ayah berani memukul penjahat karena ... takut kehilangan anaknya.
Seorang ibu berani datang ke rumah tetangga untuk pinjam uang, dengan membuang rasa malunya, karena ... takut anaknya kelaparan, misalnya.
Siswa berani tampil ke depan, bisa jadi karena ... takut kalau nanti tidak tampil, akan dimarahi orangtua. 
Kalau kondisinya, dia tidak berani tampil ke depan, berarti dia ada keberanian untuk menolaknya. Dengan kata lain, Dia berani menolak, karena... takut tampil ke depan. 
Seorang ibu berani untuk melepaskan anaknya kuliah di luar kota karena ... takut kalau dia tetap di sini, dia tidak akan berkembang. 
Seorang laki - laki berani mencuri karena ... takut anaknya tidak bisa sekolah
Seorang pemuda berani menyatakan cinta bisa jadi karena ... takut kehilangan perempuan itu
Atau bisa juga, Berani untuk kehilangan dengan tidak menyatakan cinta karena ... takut dosa, sesuai dengan prinsip yang dipegangnya. 

So many things, banyak hal yang terbilang "berani" berawal dari rasa "takut". Bahkan seorang yang gagah berani pun, punya rasa takut yang tidak kalah besar dengan keberaniannya. Bisa jadi, besarnya keberanian itu muncul karena rasa takut yang besar juga.  

Sebenarnya, yang ingin penulis sampaikan ... bahwa setiap hal selalu ada nilai positifnya, kalau kita mau belajar mengambil, menambah nilai positif itu. Rasa takut pun bisa menjadi penyebab munculnya rasa atau tindakan yang terbilang 'berani', terlepas dari benar salah dari perbuatan itu. 




Jumat, 09 Januari 2015

Aku : Sudahkah mengenal aku ?

Sangat melibatkan emosi dalam menulis tulisan ini. Dalam sebuah kesendirian di dalam kamar kosan. Berpikir sebelum menulis, mungkin tidak bermanfaat untuk orang lain, setidaknya bermanfaat untuk diri sendiri, menghilangkan ketegangan dalam diri. 

Dulu pernah terjadi hal yang serupa, dan ini diingatkan kembali. 

Pujian yang datang membuat hati melayang, tapi tak disangka justru inilah yang terkadang menjadi sebab mengapa resah, mengapa hambar dalam ibadah.

Aku akui bahwa aku memikirkan "apa yang orang pikirkan tentang aku" dengan kata lain, "cap dari orang lain", aku tidak menafikkan kalau aku ingin dinilai "baik" oleh orang lain. Aku bisa melayang ketika dipuji orang lain, tapi ketika ada kritik atau masukan datang, mungkin kecil, tapi bisa dimasukkan hati, dipikirin banget - banget, sensitif lah.. 

Sungguh hal ini sangat tidak mengenakkan. Hidup kok susah, mikirin apa yang orang lain pikirkan tentang diri ini. Memang pas banget dengan bacaan terakhir yang aku baca, novel karangan Tere Liye dengan judul "Rindu". Disampaikan kalau, yang mengetahui apa yang terjadi dengan diri ini, ya kita sendiri, bukan orang lain. Kita tertawa, hanya kita yang tahu persis apakah kita bahagia atau tidak. Kita menangis, kitalah yang tahu persis apakah sedih atau tidak. Jadi, kalau orang lain menilai kita baik, kitalah yang tahu persis apakah kita memang baik atau tidak. 

Ditambah, aku dipertemukan dengan sebuah artikel di facebook, mengenai "mudah tersinggung", oh Allah, rasanya kok pas banget, Engkau kirim tulisan itu, saat aku menantikan jawabannya, di dalamnya, dikatakan bahwa orang yang mudah tersinggung berarti orang yang tidak memiliki standard diri. Alias, dia belum mengenal dirinya dengan baik. Misalnya, orang lain mengejek 'aku gendut', dan aku marah, padahal memang kenyataannya begitu, berarti aku belum mengenal diri, menerima fakta yang ada. Kalaupun apa yang dikatakan orang lain tidak sesuai dengan diri kita, orang yang cakap tidak akan peduli, karena sudah mengetahui, memahami, dan menerima diri ini. Sikap inilah yang disebut dengan Optimis, teringat penjelasan dari salah satu dosen, Mas Hary. Optimis berbeda dengan Sombong dan Rendah Diri. Jika Optimis adalah "Mampu memahami, mengenali, dan menerima diri apa adanya" (tetapi bukan keras kepala, yang tidak mau membuka diri terhadap masukan), Sombong berarti tidak mengakui kelemahannya, terlalu melebihkan kemampuannya. Rendah Diri adalah sebaliknya. 

Aku marah. Mengapa ada pikiran seperti ini? Inginnya, tidak peduli dengan penilaian orang lain. Inginnya bisa ikhlas hanya Allah tujuannya. Lelah.

Aku diingatkan melalui hal - hal kecil seperti ini, mungkin aku belum mengenal dalam siapa aku. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah belajar menerima kenyataan, masukan dari orang lain.

Mungkin aku juga belum ikhlas dalam berbuat kebaikan, entahlah, Allah yang mengetahui. Yang bisa aku lakukan hanya berusaha sebanyak mungkin berbuat kebaikan, mungkin di antara sekian kebaikan, hanya ada secuil yang ikhlas, bahkan sebutir pun tidak sampai, tapi Allah yang Tahu. 

Bukan perkara mudah untuk melakukan hal - hal itu, tidak cukup dalam kurun waktu 2 - 3 hari, mungkin seumur hidup, karena akan jatuh bangun aku dalam belajar. Bisa jadi, hari ini aku ingat dan semangat, besok lusa aku rapuh dan tak berdaya. 

Duhai Dzat yang Maha Sempurna, dekatkan kami dalam kebaikan, berikan kami kekuatan. 

Amiin.