Selasa, 13 Januari 2015

"Berani karena Takut"

Aku lupa hal apa yang sedang kami bahas saat itu. Namun, aku mencatat benar tentang "Berani karena Takut" yang disampaikan bapak diujung pembicaraan kami. Hanya pembicaraan yang ringan, tapi selalu ada pembelajaran. Aku tidak bisa mengarang banyak, jadi langsung saja dengan "apa itu yang dimaksud "Berani karena Takut"?

Banyak orang yang melakukan tindakan terbilang 'berani', mulai dari hal kecil sampai yang besar, bak superhero yang ada di televisi. Nah, aku dan bapak sepakat bahwa ada rasa 'takut' yang mendahuluinya. Kami belum menyatakan bahwa ini sebuah kepastian, karena kami pun tidak melakukan penelitian ilmiah. Hehe. Tapi mari kita coba lihat beberapa contoh atau tindakan berani di bawah ini. 

Seorang ayah berani memukul penjahat karena ... takut kehilangan anaknya.
Seorang ibu berani datang ke rumah tetangga untuk pinjam uang, dengan membuang rasa malunya, karena ... takut anaknya kelaparan, misalnya.
Siswa berani tampil ke depan, bisa jadi karena ... takut kalau nanti tidak tampil, akan dimarahi orangtua. 
Kalau kondisinya, dia tidak berani tampil ke depan, berarti dia ada keberanian untuk menolaknya. Dengan kata lain, Dia berani menolak, karena... takut tampil ke depan. 
Seorang ibu berani untuk melepaskan anaknya kuliah di luar kota karena ... takut kalau dia tetap di sini, dia tidak akan berkembang. 
Seorang laki - laki berani mencuri karena ... takut anaknya tidak bisa sekolah
Seorang pemuda berani menyatakan cinta bisa jadi karena ... takut kehilangan perempuan itu
Atau bisa juga, Berani untuk kehilangan dengan tidak menyatakan cinta karena ... takut dosa, sesuai dengan prinsip yang dipegangnya. 

So many things, banyak hal yang terbilang "berani" berawal dari rasa "takut". Bahkan seorang yang gagah berani pun, punya rasa takut yang tidak kalah besar dengan keberaniannya. Bisa jadi, besarnya keberanian itu muncul karena rasa takut yang besar juga.  

Sebenarnya, yang ingin penulis sampaikan ... bahwa setiap hal selalu ada nilai positifnya, kalau kita mau belajar mengambil, menambah nilai positif itu. Rasa takut pun bisa menjadi penyebab munculnya rasa atau tindakan yang terbilang 'berani', terlepas dari benar salah dari perbuatan itu. 




Jumat, 09 Januari 2015

Aku : Sudahkah mengenal aku ?

Sangat melibatkan emosi dalam menulis tulisan ini. Dalam sebuah kesendirian di dalam kamar kosan. Berpikir sebelum menulis, mungkin tidak bermanfaat untuk orang lain, setidaknya bermanfaat untuk diri sendiri, menghilangkan ketegangan dalam diri. 

Dulu pernah terjadi hal yang serupa, dan ini diingatkan kembali. 

Pujian yang datang membuat hati melayang, tapi tak disangka justru inilah yang terkadang menjadi sebab mengapa resah, mengapa hambar dalam ibadah.

Aku akui bahwa aku memikirkan "apa yang orang pikirkan tentang aku" dengan kata lain, "cap dari orang lain", aku tidak menafikkan kalau aku ingin dinilai "baik" oleh orang lain. Aku bisa melayang ketika dipuji orang lain, tapi ketika ada kritik atau masukan datang, mungkin kecil, tapi bisa dimasukkan hati, dipikirin banget - banget, sensitif lah.. 

Sungguh hal ini sangat tidak mengenakkan. Hidup kok susah, mikirin apa yang orang lain pikirkan tentang diri ini. Memang pas banget dengan bacaan terakhir yang aku baca, novel karangan Tere Liye dengan judul "Rindu". Disampaikan kalau, yang mengetahui apa yang terjadi dengan diri ini, ya kita sendiri, bukan orang lain. Kita tertawa, hanya kita yang tahu persis apakah kita bahagia atau tidak. Kita menangis, kitalah yang tahu persis apakah sedih atau tidak. Jadi, kalau orang lain menilai kita baik, kitalah yang tahu persis apakah kita memang baik atau tidak. 

Ditambah, aku dipertemukan dengan sebuah artikel di facebook, mengenai "mudah tersinggung", oh Allah, rasanya kok pas banget, Engkau kirim tulisan itu, saat aku menantikan jawabannya, di dalamnya, dikatakan bahwa orang yang mudah tersinggung berarti orang yang tidak memiliki standard diri. Alias, dia belum mengenal dirinya dengan baik. Misalnya, orang lain mengejek 'aku gendut', dan aku marah, padahal memang kenyataannya begitu, berarti aku belum mengenal diri, menerima fakta yang ada. Kalaupun apa yang dikatakan orang lain tidak sesuai dengan diri kita, orang yang cakap tidak akan peduli, karena sudah mengetahui, memahami, dan menerima diri ini. Sikap inilah yang disebut dengan Optimis, teringat penjelasan dari salah satu dosen, Mas Hary. Optimis berbeda dengan Sombong dan Rendah Diri. Jika Optimis adalah "Mampu memahami, mengenali, dan menerima diri apa adanya" (tetapi bukan keras kepala, yang tidak mau membuka diri terhadap masukan), Sombong berarti tidak mengakui kelemahannya, terlalu melebihkan kemampuannya. Rendah Diri adalah sebaliknya. 

Aku marah. Mengapa ada pikiran seperti ini? Inginnya, tidak peduli dengan penilaian orang lain. Inginnya bisa ikhlas hanya Allah tujuannya. Lelah.

Aku diingatkan melalui hal - hal kecil seperti ini, mungkin aku belum mengenal dalam siapa aku. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah belajar menerima kenyataan, masukan dari orang lain.

Mungkin aku juga belum ikhlas dalam berbuat kebaikan, entahlah, Allah yang mengetahui. Yang bisa aku lakukan hanya berusaha sebanyak mungkin berbuat kebaikan, mungkin di antara sekian kebaikan, hanya ada secuil yang ikhlas, bahkan sebutir pun tidak sampai, tapi Allah yang Tahu. 

Bukan perkara mudah untuk melakukan hal - hal itu, tidak cukup dalam kurun waktu 2 - 3 hari, mungkin seumur hidup, karena akan jatuh bangun aku dalam belajar. Bisa jadi, hari ini aku ingat dan semangat, besok lusa aku rapuh dan tak berdaya. 

Duhai Dzat yang Maha Sempurna, dekatkan kami dalam kebaikan, berikan kami kekuatan. 

Amiin.






Senin, 08 Desember 2014

Irreplaceable


Dibilang “temen”, kayaknya lebih dari temen
Disebut “sahabat”, sebenernya nggak yakin juga
Kalau “saudara”, nggak tau juga, mungkin gegara satu organisasi jadi manggilnya “sodh”
Dekat ? ehmm, nggak yakin kalau dekat, selain terpisah jarak fisik, hati pun aku masih meragu. Aku yang ragu. Jadi, apa ya? Apa yang membuatku merasa bahwa mereka “tak tergantikan”?

Apa ya? #mikirkeras
Lha wong padahal karakter beda jauh, minat apalagi, tapi kok yo betah gitu lho sampai sekarang. Kalau di perantauan, yang dikangeni itu ya “makhluk – makhluk” ini! Makhluk yang seimprit, secuil, seupil ini, ternyata oh ternyata… memang “cilik” wujudnya jika dilihat dari bulan. Makhluk ini langka. Harus bersyukur model apa ya aku ini, dikasih hadiah sama Allah SWT seberharga ini, “cilik, langka, berharga”.

Sebut saja dia bunga, gadis cantik yang umurnya selalu paling muda di antara kami, setiap tahun nggak akan lebih tua dari yg lainnya. Heehe. “Ngak, semenjak kuliah, udah jaraaang banget berbagi cerita, tidak sesering waktu masih duduk sebangku di SMA. Berharap bisa cerita lebih lama, dalam, tiap ketemu di liburan. Ngapunten kalau aku tidak peka dengan kondisimu, sayang.”

Calon ibu dokter, Eno.. perempuan tegar yang siap mengabdi untuk orang di sekitarnya. Dia nggak pikir panjang kalau mau nolong orang, suka sebel kalau dia nolong orang lain tapi tidak memikirkan diri sendiri. “No, aku tahu kepuasanmu, kebanggaanmu ketika bisa melihat orang lain seneng… perhatikan juga kesehatanmu ya, bu. Tetep semangat menebar manfaat yes ! “

Baiklah, lanjut ke wanita super cerdas, banyak bicara, dan banyak bekerja, nama beken tayak. Selalu merasa dirinya “elek” padahal aslinya sangat “intelek” . Selalu bilang “aku raiso” tapi ending nya bawa piala juga. Sangat menyebalkan. Orangnya nggak suka dipuji secara terang – terangan. Lagian juga nggak akan mempan. “yak, aku nggak akan memuji kok, tak enteni wae prestasi – pestasimu selanjutnya. Keep spirit, dear.”

Si kecil, anggrek. Tubuh boleh kecil, tapi nyali beuhh… jangan remehkan. Calon psikolog handal. Perempuan yang gigih, dan pantang menyerah. Suka merendah, padahal jagoannya.“Nggrek, pengen banyak belajar dari anggrek, tapi jarang banget ketemu. Nggrek, anggrek lebih lebih dari yang anggrek pikirkan lho.”

Sudah empat perempuan yang super aku ceritakan. Saatnya menuju enam laki – laki yang apa ya… *speechless

Dimulai dari yang paling senior, dulu sering dipanggil “mbah”, tapi si doi nggak mau. Yauda, panggil saja bang “apri”. Hehe. Ada yang bilang “Kalau mau tau kesabaran orang, lihatlah dari kesabarannya dalam memperlakukan bapak ibunya.” Salut sama si senior ini, sayangnya ke orang tua tidak diragukan lagi. Memang langka pemuda jaman sekarang ya seperti beliau. “Pri, mesti bapak ibumu bangga duwe anak sing iso diandalkan.”

Laki – laki yang mengaku mirip dengan Afgan. Tampaknya galak, ngeri, sangar tapi hatinya lembut, sensitive, peka. Kukuh namanya. “Setia”nya kepada kawan jangan ditanya. Ibarat hujan akan dia lewati, badai pun dia terjang. Beuuh.. Bicaranya “mak jleb” tapi terkenang. Selera humornya tinggi, jadi jangan nglucu di depannya kalau belum yakin itu lucu. Hehe. “Ojo minder lan pesimis, kuh. Tanpa disadari, sudah banyak perubahan positif pada dirimu.”

Tersebutlah dia Agus. Eh jangan. Panggil saja dia Gusta, lebih keren. Badannya gedhe, kayak bodyguard. Bukan cuma badan, otaknya berisi, hatinya pun lapang. Sabarnya nggak nguati. Nggak salah kalau nanti kita temukan dia jadi pemimpin yang bijak. Diamnya bukan berarti tidak perhatian kepada kawan dan sohibnya. Salah satu yang membuatku iri padanya adalah “feeling”nya bagus, lebih bagus daripada aku yang belajar psikologi. Hehe. “Gus, maturnuwun ya. Tetep dijaga ciri khas mu, lipat gandakan potensi, bakatmu. Aku ngerti uletmu tidak terkalahkan. Lebai. Hehe.”

Calon pengusaha sukses. Kami biasa memanggil dengan nama Yoga. Rupanya yang bersinar seperti namanya “raditya” (matahari), membuat bukan hanya perempuan tapi juga laki – laki ikut klepek – klepek. Ketenarannya jadi kapten basket, suksesnya di bisnis, tidak membuat dia semakin tinggi hati, justru rendah hati dan ngajeni yang dia tampilkan. “Yog, dijaga semangate. Siapkan diri untuk menjadi calon suami buat ‘nyonya’.” Hehe.

Lelaki yang punya semangat dan optimis. Suara fals tidak mengapa yang penting nyanyi. Kita panggil Thio Dhimas. *tepuk tangan. Badan boleh kecil, cengkring, tapi riwayat hidupnya jangan diremehkan, sudah banyak jabatan sebagai ketua ia lakoni. Pak Jokowi saja bisa, thio pasti bisa. Hehe. “Io, sejujurnya aku anyel nek kowe ngrokok. Ora tegel. Hehe. Io, sukses yo.“
  
Laki – laki berbadan besar, tapi dengan “baby face”. Rizal atau Zaluth. Kesibukannya luar biasa. Susah kalau ngajak buat kumpul. Sudah lama tidak memperhatikan perubahannya. Terakhir ketemu, masih sama. Ceria dan suaranya cetar membahana. “Zal, ojo kesel nggo mengabdi serta melayani lewat kegiatan2 sing mbok lakoni. Sempatkan pula untuk quality time with your family and us.” Hehe.  

Pas. Sudah sepuluh. *speechless. Aku bingung. Tidak mengurangi rasa bosan, aku akan terus mengucap terimakasih  for all of you. Banyak yang belum aku tahu mengenai kalian, banyak yang belum aku beri untuk kalian. Semoga masih ada kesempatan untuk terus mengenal kalian.

*Mohon maaf atas segala kesalahan yang penulis buat, yang mungkin menyakiti hati. Sangat terbuka lebar untuk kritik dan sarannya.   

Senin, 01 Desember 2014

Apresiasi ! Bukan sekedar Memuji

Sebuah kenikmatan besar, bisa dipertemukan dengan orang - orang hebat, mereka yang menginspirasi, dan dari beliau, aku mendapat banyak pelajaran. Melalui mas Hary dan Mbak Wita, dosen muda yang semangat dalam berbagi ilmu. Berbagi tentang Apa itu Apresiasi ?

Mungkin kebanyakan orang menganggap "mengapresiasi" sama dengan "memuji". Tapi setelah membaca tulisan ini, kita akan tahu bahwa "Apresiasi" lebih dari itu, bahkan "pujian" bukanlah arti dari apresiasi, tapi bisa jadi salah satu dari bentuk "apresiasi".

Oke, Kata Kunci yang harus diingat dari "Apresiasi" sebagai berikut :
  1. MENGAKUI 
  2. MENGHARGAI
  3. MEMBERI NILAI TAMBAH (+) 
MENGAKUI.  
  • Mengakui bahwa hal tersebut "ada". lawan dari kata "Mengakui" adalah "Mengabaikan". Jadi, jelaslah kalau mengabaikan, berarti tidak mengapresiasi. Namun "diam" belum tentu mengabaikan.
  • Mengakui tidak harus memuji. 
  • Sebagai contoh : Aku mendapat nilai 5. Bentuk apresiasinya ya "aku menerima bahwa nilaiku tidak mencapai target." BUKAN "nilaiku bukan 5 kok, ini salah tulis paling" (ini menafikkan). 
  • Tidak ada salahnya mendapat nilai tidak mencapai target, tinggal bagaimana kita bisa mengambil pelajaran untuk ke depannya.
  • Sekali lagi, Mengakui, menerima kenyataan bahwa hal tersebut ada dan nyata. 
MENGHARGAI
  • Menghargai keberadaan meski itu kecil, meski kecil sekali. Sebagai contoh, dia terlambat, tapi dia datang. Hargailah, sampaikan bahwa "terimakasih sudah datang, kamu datang 20 menit dari yang kita sepakati, aku menunggumu sudah lama, pengennya nanti kamu bisa datang tepat waktu, jika kamu kesusahan, apa yang bisa aku bantu? 
  • Kalimat di atas hanya contoh saja, tapi masing - masing dari kita mempunyai style yang berbeda dalam penyampaian.
  • Lawan dari "menghargai" adalah "menyepelekkan". 
  • Tidak selamanya apresiasi bentuknya positif (+)  
  • Misalny percakapan di bawah ini,
    • Sunny :  Pak, aku kok bodoh ya, nggak bisa menyelesaikan soal matematika ini
    • Bapak : Hemm, bapak rasa kamu ini udah kerja keras ya dari tadi, anak yang punya keinginan untuk tahu lebih banyak
  • Dari percakapan di atas, kita bisa melihat bahwa bapak bisa mengambil bagian yang berharga dari hal tersebut, mungkin tidak disadari dari anaknya, tapi dari kesadaran si anak yang merasa bodoh itulah justru kelebihannya, dia anak yang mempunyai keinginan untuk tahu lebih dari biasa.  
MEMBERI NILAI TAMBAH (+) 
  • Kata lainnya adalah Bersyukur 
  • Bukan menafikkan hal negatif 
  • Misalnya : Oke, aku harus mengulang mata kuliah tertentu, aku mengapresiasi bahwa aku memang harus mengulang agar menunjang nilaiku, dan aku berpikir bahwa "oke, aku akan lebih paham mengenai mata kuliah ini, karena aku kuliah lebih dari teman - teman yang lain" 
Mengakuinya, bukan memuji, tanpa harus menafikkan hal yang negatif, konten boleh saja negatif, tetapi cara Harus Konstruktif. 
Satu contoh lagi "Kamu gendut, tapi cantik dan nggak bosen kalo dilihat" dengan "kamu cantik, tapi kamu gendut" mana yang lebih enak dan senang untuk didengar?

You see?
Banyak tantangan untuk bisa Berkomunikasi Apresiatif, memberi apresiasi kepada diri sendiri maupun orang lain. Sangat MENANTANG memang ketika kita harus mengapresiasi orang/ hal yang :
  1.  Berbeda Pendapat. (Tidak menyetujui tapi tetap apresiasi)
  2. Posisinya di bawah kita (mungkin adik, junior, dll)
  3. Kegagalan
  4. Orang yang tidak Disukai (dibenci)
  5. Orang yang gagal dan dibenci. Beuh, susahnya.. tapi menantang. hehe
Untuk melatih ketrampilan ini, kita bisa mulai dengan mengapresiasi diri sendiri. Bagaimana bisa kita mengapresiasi orang lain kalau tidak mengapresiasi diri sendiri.?

LET'S TRY ! DO OUR BEST !


Jumat, 07 November 2014

Manusia tempat kecewa.

Niat hati ingin bisa membahagiakan 
Rasanya ingin seperti pahlawan 
Sempat aku memberi harapan
Karena kukira akan sempurna berjalan

Tapi ternyata aku mengecewakan
Apa yang aku katakan, apa yang aku janjikan
tidak terlaksana sesuai harapan
Aku mengecewakan

Rasa bersalah tidak kunjung reda
kepada orang - orang yang pernah aku buat kecewa

Apa yang aku inginkan..adalah..
Semoga mereka bahagia
terobatilah kekecewaan yang pernah ada
Lebih indah, lebih sempurna