Sangat melibatkan emosi dalam menulis tulisan ini. Dalam sebuah kesendirian di dalam kamar kosan. Berpikir sebelum menulis, mungkin tidak bermanfaat untuk orang lain, setidaknya bermanfaat untuk diri sendiri, menghilangkan ketegangan dalam diri.
Dulu pernah terjadi hal yang serupa, dan ini diingatkan kembali.
Pujian yang datang membuat hati melayang, tapi tak disangka justru inilah yang terkadang menjadi sebab mengapa resah, mengapa hambar dalam ibadah.
Aku akui bahwa aku memikirkan "apa yang orang pikirkan tentang aku" dengan kata lain, "cap dari orang lain", aku tidak menafikkan kalau aku ingin dinilai "baik" oleh orang lain. Aku bisa melayang ketika dipuji orang lain, tapi ketika ada kritik atau masukan datang, mungkin kecil, tapi bisa dimasukkan hati, dipikirin banget - banget, sensitif lah..
Sungguh hal ini sangat tidak mengenakkan. Hidup kok susah, mikirin apa yang orang lain pikirkan tentang diri ini. Memang pas banget dengan bacaan terakhir yang aku baca, novel karangan Tere Liye dengan judul "Rindu". Disampaikan kalau, yang mengetahui apa yang terjadi dengan diri ini, ya kita sendiri, bukan orang lain. Kita tertawa, hanya kita yang tahu persis apakah kita bahagia atau tidak. Kita menangis, kitalah yang tahu persis apakah sedih atau tidak. Jadi, kalau orang lain menilai kita baik, kitalah yang tahu persis apakah kita memang baik atau tidak.
Ditambah, aku dipertemukan dengan sebuah artikel di facebook, mengenai "mudah tersinggung", oh Allah, rasanya kok pas banget, Engkau kirim tulisan itu, saat aku menantikan jawabannya, di dalamnya, dikatakan bahwa orang yang mudah tersinggung berarti orang yang tidak memiliki standard diri. Alias, dia belum mengenal dirinya dengan baik. Misalnya, orang lain mengejek 'aku gendut', dan aku marah, padahal memang kenyataannya begitu, berarti aku belum mengenal diri, menerima fakta yang ada. Kalaupun apa yang dikatakan orang lain tidak sesuai dengan diri kita, orang yang cakap tidak akan peduli, karena sudah mengetahui, memahami, dan menerima diri ini. Sikap inilah yang disebut dengan Optimis, teringat penjelasan dari salah satu dosen, Mas Hary. Optimis berbeda dengan Sombong dan Rendah Diri. Jika Optimis adalah "Mampu memahami, mengenali, dan menerima diri apa adanya" (tetapi bukan keras kepala, yang tidak mau membuka diri terhadap masukan), Sombong berarti tidak mengakui kelemahannya, terlalu melebihkan kemampuannya. Rendah Diri adalah sebaliknya.
Aku marah. Mengapa ada pikiran seperti ini? Inginnya, tidak peduli dengan penilaian orang lain. Inginnya bisa ikhlas hanya Allah tujuannya. Lelah.
Aku diingatkan melalui hal - hal kecil seperti ini, mungkin aku belum mengenal dalam siapa aku. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah belajar menerima kenyataan, masukan dari orang lain.
Aku diingatkan melalui hal - hal kecil seperti ini, mungkin aku belum mengenal dalam siapa aku. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah belajar menerima kenyataan, masukan dari orang lain.
Mungkin aku juga belum ikhlas dalam berbuat kebaikan, entahlah, Allah yang mengetahui. Yang bisa aku lakukan hanya berusaha sebanyak mungkin berbuat kebaikan, mungkin di antara sekian kebaikan, hanya ada secuil yang ikhlas, bahkan sebutir pun tidak sampai, tapi Allah yang Tahu.
Bukan perkara mudah untuk melakukan hal - hal itu, tidak cukup dalam kurun waktu 2 - 3 hari, mungkin seumur hidup, karena akan jatuh bangun aku dalam belajar. Bisa jadi, hari ini aku ingat dan semangat, besok lusa aku rapuh dan tak berdaya.
Duhai Dzat yang Maha Sempurna, dekatkan kami dalam kebaikan, berikan kami kekuatan.
Amiin.